Hujan deras di Lebak kembali putuskan jembatan gantung

Hujan deras di Lebak kembali putuskan jembatan gantung

Para warga membangun jembatan darurat setelah jembatan rusak akibat longsor di Cigobang Kecamatan Lebak Gedong, Rabu (25/3/2020) sore. ANTARA/HO

Kami berharap kerusakan jalan dan jembatan segera kembali diperbaiki oleh pemerintah daerah
Lebak (ANTARA) - Hujan deras di kawasan kaki Gunung Halimun Salak di Kabupaten Lebak kembali memutuskan jembatan gantung di Desa Banjar Irigasi Kecamatan Lebak Gedong akibat meluapnya Sungai Ciberang.

"Beruntung, hujan deras itu tidak berlangsung lama, sehingga banjir cepat surut," kata Maksum (50), warga Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak saat dihubungi di Lebak, Rabu.

Baca juga: Warga korban banjir Lebak minta kejelasan pembangunan huntap

Hujan deras disertai angin kencang hingga mengakibatkan jembatan gantung kembali terputus setelah diterjang luapan Sungai Ciberang.

Jembatan gantung yang dibangun masyarakat dan relawan sebulan lalu pasca-banjir bandang dan longsor itu harus dibangun lagi.

Baca juga: Warga Lebak kembali diminta waspadai banjir dan longsor

Sebab, beberapa bagian jembatan gantung tersebut terputus akibat diterjang banjir.

Saat ini, masyarakat setempat terpaksa tidak berani melintasi Sungai Ciberang di Desa Banjar Irigasi karena debit air masih tinggi dan membahayakan keselamatan warga.

Baca juga: BPBD Lebak imbau warga perbukitan waspadai bencana alam

"Semua warga terpaksa menunggu sungai itu kembali normal untuk menyeberang menggunakan rakit," katanya menjelaskan.

Roni (23) warga Desa Muhara Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak mengatakan hujan deras yang terjadi sepanjang Rabu (25/3) sore itu mengakibatkan jalan menuju Cigobang terputus akibat longsor.

Selain itu juga dua rumah warga milik H Sarmedi dan H Sarmudi terendam banjir air dari atas tebing Ciketut dengan ketinggian banjir satu meter.

Hujan deras juga areal persawahan milik masyarakat setempat tertimbun tanah longsor.

Masyarakat di wilayahnya itu, kata dia, cukup ketakutan karena trauma banjir bandang dan longsor yang terjadi awal tahun 2020 masih teringat hingga mengakibatkan korban jiwa.

Bahkan, warga yang menjadi korban bencana alam itu, diantaranya hingga kini warga masih tinggal di posko pengungsian akibat rumah mereka mengalami kerusakan hingga hanyut.

"Kami berharap kerusakan jalan dan jembatan segera kembali diperbaiki oleh pemerintah daerah," katanya menjelaskan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi mengimbau masyarakat yang tinggal di lokasi rawan banjir dan longsor agar meningkatkan kewaspadaan sehubungan cuaca buruk yang disertai hujan deras dan angin kencang hingga awal Juni 2020.

Karena itu, pihaknya mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bencana alam dan jika hujan deras hingga di atas lima jam, sebaiknya warga mengungsi ke tempat yang aman.

"Kami sudah menyampaikan peringatan dan imbauan kepada aparat kecamatan, desa dan relawan untuk meningkatkan waspada bencana alam itu," katanya menjelaskan.
 

Pewarta: Mansyur suryana
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Syarat STRP berlaku, stasiun MRT sepi penumpang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar