Brisbane (ANTARA News) - Konsulat RI di Darwin belum mendapat akses kekonsuleran penuh untuk memastikan status kewarganegaraan dua dari delapan orang korban ledakan di atas kapal kayu yang ditumpangi pencari suaka di perairan Australia, Kamis pagi (16/4).

Ke-delapan orang itu sejak Jumat dirawat di Rumah Sakit Royal Darwin (RDH) karena luka bakar serius yang mereka derita.

"Kita masih berkoordinasi dengan pihak Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) dan Imigrasi Australia di Darwin untuk mendapat akses kekonsuleran," kata Sekretaris II Fungsi Pensosbud Konsulat RI Darwin Arvinanto Soeriaatmadja kepada ANTARA yang menghubunginya, Jumat malam.

Walaupun akses kekonsuleran secara penuh belum didapat dari pihak terkait Australia, informasi yang dihimpun Konsulat RI Darwin menyebutkan, dua dari delapan orang yang kini dirawat di RDH itu adalah Beni asal Bone, Sulawesi Selatan, dan Tahir M asal Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, kata Arvinanto.

Beni, Tahir dan ke-enam orang yang dirawat di Darwin itu termasuk di antara 31 orang yang menderita luka bakar serius dalam peristiwa ledakan di kapal kayu pengangkut pencari suaka di perairan Australia Kamis (16/4).

"Berdasarkan informasi yang kita peroleh, kondisi Tahir lebih parah dari kondisi Bone. Kalau dalam dua puluh empat jam, kondisi Tahir memburuk, dia kabarnya akan dirujuk ke salah satu rumah sakit di Brisbane," katanya.

Karena belum mendapat akses kekonsuleran, Konsulat RI Darwin belum dapat memastikan kebenaran status kewarganegaraan mereka maupun peran mereka di kapal tersebut. "Karena itu, kita mengharapkan kerja sama yang baik dengan seluruh instansi terkait Australia," kata Arvinanto.

Dari 31 orang korban yang menderita luka bakar serius, sebanyak delapan orang, termasuk Beni dan Tahir, dilarikan ke RDH, satu orang dibawa ke RS Broome, dan 22 orang lainnya dikirim ke RS di Perth.

Sebelumnya Menteri Imigrasi dan Kewarganegaraan Australia, Chris Evans, seperti dikutip AAP, mengatakan, ia belum bisa memastikan penyebab terjadinya ledakan yang menewaskan tiga orang dan mengakibatkan hilangnya dua orang lainnya itu.

Dalam peristiwa ledakan di atas kapal kayu berpenumpang 47 orang pencari suaka dan dua orang awak itu, tiga orang personil Angkatan Bersenjata Australia yang mengawal mereka juga dilaporkan terluka.

Sehari sebelumnya, media Australia melaporkan bahwa para pencari suaka itu diduga berasal dari Afghanistan namun tidak menyinggung status kewarganegaraan kedua awak kapalnya.

Hanya saja, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia sudah menghubungi KBRI Canberra mengenai peristiwa ini.

Kapal kayu pengangkut pencari suaka ini ditangkap kapal perang Australia, HMAS Albany, sekitar dua mil dari Pulau Karang Ashmore Selasa (14/4) namun peristiwa ledakan terjadi pada saat HMAS Albany memandu kapal menuju Pulau Christmas, Australia Barat, Kamis pagi.

Kapal ini merupakan kapal pengangkut migran gelap ke-enam yang ditangkap di perairan Australia. Pada 8 April lalu, sebuah kapal berpenumpang 45 orang warga asing juga tiba di Pulau Christmas.

Dalam menangani aksi kejahatan penyelundupan manusia dan migran gelap, pemerintah Australia bekerja sama dengan negara-negara mitra di kawasan Asia Pasifik melalui forum "Bali Process" beranggotakan 42 negara.

Forum pertemuan tingkat menteri "Bali Process" merupakan inisiatif bersama Australia dan Indonesia untuk memperkuat komitmen bersama negara asal, negara transit dan negara tujuan untuk merespons aksi-aksi kejahatan penyelundupan manusia dan perdagangan orang.

Dalam beberapa tahun terakhir ini , Australia terus diganggu dengan kedatangan kapal-kapal pencari suaka.

Sepanjang 2008, otoritas keamanan Australia menangkap 162 orang pencari suaka dengan tujuh kapal. Para pencari suaka dan awak kapal pengangkut mereka dibawa ke Pulau Christmas untuk menjalani pemeriksaan.

Indonesia juga menghadapi apa yang disebut Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda "fenomena baru" menyusul kedatangan sekitar 400 orang warga Muslim Rohingya.
(*)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009