Artikel

Corona menyadarkan betapa kita mendamba keriaan olahraga

Oleh Shofi Ayudiana

Corona menyadarkan betapa kita mendamba keriaan olahraga

Pendukung Bayern Munchen membentangkan gambar raksasa Arjen Robben dan Franck Ribery saat pertandingan terakhir mereka melawan Eintracht Frankfurt di Allianz Arena, Munich, Sabtu (18/5/2019). Kontrak dua pemain itu telah selesai pada akhir musim ini. Robben menjalani 10 musim bersama Bayern dengan memenangi tujuh gelar dan mencetak 98 gol. Sedangkan Ribery ikut membawa Bayern meraup delapan trofi plus menyumbang 85 gol sepanjang 12 musim berkostum Die Roten. ANTARA FOTO/REUTERS/pras.

Jakarta (ANTARA) - Pertandingan Liga Italia Serie A antara Juventus vs Inter Milan di Stadion Allianz pada Senin, 9 Maret lalu seharusnya bisa menjadi tontonan yang menggembirakan. Maklum, Inter Milan tengah berjuang keras untuk menyalip posisi Juventus dan Lazio di dua besar klasemen sementara.

Namun, momen yang seharusnya disambut dengan gegap gembita dan sorak sorai penonton itu justru menjelma kehampaan dan kekosongan, sebab tribun penonton tak terisi dan selebrasi kemenangan Juventus hanya bisa dilakukan melalui layar kaca atau gawai para penggemarnya.

Di benua yang lain, Australia, antusiasme para penggemar yang berkerumun di depan pintu masuk Sirkuit Albert Park, Melbourne, menantikan seri pembuka Formula 1 berganti cemas.

Baca juga: Paulo Dybala positif terjangkit virus corona
Baca juga: Hamilton soal batalnya GP Australia : Sayangnya, ini keputusan tepat


Pun demikian dengan para pebalap Formula 1 yang sudah tak sabar memacu tunggangan baru mereka di kompetisi musim ini. Mobil dan helm-helm dengan sentuhan livery warna-warni yang seharusnya dipakai seketika berganti menjadi masker-masker medis usai salah satu anggota tim McLaren dinyatakan positif terinfeksi COVID-19.

Di Jepang, tepatnya di hadapan Stasiun Tokyo, orang-orang setempat mulai melupakan keberadaan jam raksasa hitung mundur Olimpiade 2020 Tokyo yang sempat populer.

Namun, pada 25 Maret kerumunan pejalan kaki kembali mengitari tengara itu demi mengabadikan momen gugurnya tugas jam itu lantaran Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan panitia pelaksana Olimpiade Tokyo sepakat menunda pesta olahraga empat tahunan itu ke tahun 2021 karena kekhawatiran penularan virus corona tak kunjung mereda.

Angka 122 hari terakhir kali terpampang di sana disertai jam, menit dan detik yang tersisa hingga pesta pembukaan Olimpiade Tokyo 2020. Jam itu tak lagi istimewa, kini hanya berfungsi laiknya kalender dan jam pada umumnya.

Baca juga: Olimpiade di tunda, Naomi Osaka kecewa tapi tetap mendukung
Baca juga: Olimpiade ditunda, Jepang tanyakan siapa yang bayar biaya penangguhan


Jari-jari kita dari tangan hingga kaki tak akan cukup menghitung berapa banyak jadwal kompetisi olahraga yang direcoki oleh virus corona yang sudah menjadi pandemi global. Liga Inggris, La Liga, Bundesliga, Ligue 1, Eredivisie, Liga Champions, Liga Europa, Euro 2020, Copa America, NBA, MotoGP, Piala Thomas & Uber dan seluruh ajang kualifikasi Olimpiade adalah sebagian saja yang terdampak.

Bencana ini telah membuat seluruh kompetisi olahraga seakan berhibernasi, membuat orang kebanyakan kehilangan pelariannya.

Halaman selanjutnya: Para penggemar olahraga

Oleh Shofi Ayudiana
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar