BPBD akui sejumlah rumah di Sigi rusak akibat gempa 5,8 SR

BPBD akui sejumlah rumah di Sigi rusak akibat gempa 5,8 SR

lustrasi - Pengunjung berada di sekitar puing bangunan rumah warga yang hancur di bekas lokasi bencana gempa dan likuefaksi Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (30/12/2019). ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/pras/pri.

Sigi, Sulteng (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah melaporkan sejumlah rumah warga di Kecamatan Kulawi Selatan mengalami kerusakan akibat gempa bumi magnitudo/M 5,8 atau 5,8 skala richter/SR yang mengguncang wilayah Sigi dan Kota Palu pada Sabtu (28/03/2020).

Kepala BPBD Kabupaten Sigi, Asrul di Sigi, Senin membenarkan, berdasarkan informasi ada sejumlah rumah warga di Desa Tomua, Kecamatan Kulawi Selatan yang dilaporkan mengalami kerusakan karena gempa.

Bahkan ada tiga warga yang terluka saat gempa mengguncang wilayah tersebut karena tertimpa benda keras. "Hanya saja luka yang dialami tiga warga tersebut tidak parah. Luka ringan saja," kata dia.

Namun demikian, kata Asrul gempa yang terjadi pada saat warga sedang tidur, cukup membuat kebanyakan masyarakat berhamburan keluar rumah.

Termasuk di Kota Palu, katanya, cukup kuat dirasakan warga sehingga mereka berlarian keluar rumah guna menghindari hal-hal yang dapat membahayakan diri mereka.

"Memang cukup mengejutkan dan membuat warga kembali teringan akan peristiwa gempabumi dasyat yang terjadi pada 28 September 2018 dimana, Kabupaten Sigi merupakan tiga daerah di Provinsi Sulteng selain Kota Palu dan Donggala yang mengalami dampak paling parah diterjang gempabumi dan likuefaksi," katanya.

Wajar, jika warga berhamburankeluar rumah, sebab khawatir akan kejadian bencana alam gempabumi dua tahun lalu yang menelan ribuan korban jiwa dan menghgancurkan serta melumpuhkan perekonomian masyarakat tidak hanya di Sigi, tetapi juga Kota Palu dan Donggala.

Menurut dia, tindakan warga keluar rumah saat gempa itu sudah tepat sebagai salah satu langkah untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan tertimpa reruntuhan bangunan.

Akan tetapi, warga tidak boleh panik berlebihan, sebab hal itu juga dapat merugikan diri sendiri.

Wilayah Sulteng, termasuk Kabupaten Sigi selama ini memang rawan bencana alam gempa bumi, banjir dan tanah longsor.

Karena itu, warga senantiasa harus selalu waspada terhadap ancaman bencana.

Gempa di Sulteng terbesar pada 28 September 2018 dengan kekuatan 7,5 SR.

HIngga saat ini dampak dari bencana alam tersebut, salah satunya saluran irigasi Gumbasa yang mengairi sekitar 7.000-an hektare lahan persawahan dan hortikultura di Kabupaten Sigi masih belum pulih.

Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR sementara berusaha memperbaiki kembali irigasi Gumbasa agar petani bisa kembali menggarap lahan yang cukup lama terlantar karena ketiadaan irigasi. ***3***
Baca juga: Humaniora kemarin, terbaru soal COVID-19 hingga gempa di Sulteng
Baca juga: Pakar Geologi: Waspadai pergerakan patahan selatan Pulau Sulawesi
Baca juga: Masyarakat diimbau tetap waspada pascagempa Sigi
Baca juga: Gempa 5,8 magnitudo guncang Sigi, tidak berpotensi tsunami

Pewarta: Anas Masa
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

BPBD Kota Pekalongan sebut 3 penyebab banjir belum surut

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar