Bandung (ANTARA News) - Program Bandung Green and Clean (BGC) dan kompetisi lingkungan tingkat RW berbasis pada pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri dijadwalkan diluncurkan di Lapangan Balai Kota Jalan Wastu Kencana, Sabtu(25/4).

Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, Dandan Riza Wardana pada konperensi pers di rumah makan Bumbu Desa Bandung, Jumat, mengatakan Program BGC sejalan tujuh program prioritas Kota Bandung.

Program dan kompetisi merupakan kerjasama PT Unilever Indonesia Tbk melalui Yayasan Unilever Indonesia bekerjasama dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung, Lembaga Penerapan Teknologi Tepat Guna (LPTT), Harian Pikiran Rakyat, dan Radio Rase FM.

Bandung pun dipilih karena merupakan salah satu kota besar di Pulau Jawa yang memiliki permasalahan lingkungan terutama sampah.

Sampah Kota Bandung tiap harinya setara dengan berat 1.000 ekor gajah, lembaran sampah plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak bola dan sampah kertasnya setara dengan bubur pulp dari 500 batang pohon.

Program tersebut merupakan salah satu program "Corporate Social Responsibility (CSR)" atau program kepedulian sosial PT Unilever Indonesia Tbk yang bertujuan mengubah paradigma masyarakat tentang permasalahan sampah dan lingkungan.

Tujuan kegiatan tersebut pada akhirnya masyarakat Bandung dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik, kata Environment Program Manager Yayasan Unilever Indonesia Silvy Tirawaty.

Pemkot Bandung berharap dengan adanya kerjasama ini akan saling menunjang keberhasilan program lingkungan. Dimana BGC mampu memotivasi masyarakat untuk merubah perilakunya terhadap lingkungan di Bandung.

Program BGC ini diikuti oleh 30 kecamatan dimana masing-masing kecamatan diharapkan dapat megirimkan 3 wakilnya, sehingga target dari program ini untuk melibatkan 100 RW dapat tercapai. Kriteria penilaian program dan kompetisi lingkungan ini meliputi pengolahan dan pemilahan sampah serta program penghijauan.

Menurut Silvi, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperpendek rantai sampah. Semakin cepat sampah sampai di industri daur ulang maka semakin cepat proses pengolahan sampah itu berlangsung. Selain itu masyarakat pun mendapat nilai ekonomis dari sampah yang ada.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009