Artikel

Mengamalkan jargon YNWA dalam perjuangan melawan corona

Oleh Gilang Galiartha

Mengamalkan jargon YNWA dalam perjuangan melawan corona

Staf AS Roma mengirimkan perangkat kesehatan masker dan hand sanitizer yang didonasikan klub Liga Italia itu ke sejumlah rumah sakit di ibu kota Italia pada Selasa (17/3/2020). (ANTARA/Twitter@ASRomaEN)

Jakarta (ANTARA) - Rabu, 20 Maret 2020, tepat pukul 7.45, stasiun BBC Radio 1 dan Radio 2 di Britania Raya serentak memutar lagu "You'll Never Walk Alone".

Pada saat bersamaan lagu itu juga dimainkan di berbagai stasiun radio di Eropa seperti di Belanda, Belgia, Jerman, Austria, Spanyol dan Italia.

Demikian juga dari sistem pengeras suara di stadion-stadion markas Celtics, Borussia Dortmund dan Borussia Moenchengladbach.

"Kita semua harus turut berjuang untuk mengalahkan krisis ini. Sejujurnya itu di luar kuasa kami yang berkutat di bisnis radio," kata Sander Hoogendoorn, seorang penyiar radio NPO 3FM di Belanda, yang menjadi inisiator gerakan tersebut.

"Itulah mengapa saya pikir 'Kenapa tidak program pagi semua radio memutar lagu yang sama secara serentak?'

"You'll Never Walk Alone jadi pilihan utama karena bisa mewakili pesan penyemangat bagi petugas medis, mereka yang sakit dan sisanya yang tak bisa meninggalkan rumah untuk beberapa waktu ke depan."

Dua hari kemudian, penggemar Liverpool di Indonesia mengunggah kolase video mereka tengah menyanyikan lagu yang sama. Lagu yang juga menjadi yel-yel bahkan jargon kebanggaan klub Inggris jawara Eropa tersebut.

Baca juga: Klopp tak sabar dengarkan lagu "You'll Never Walk Alone" di Anfield

Manajer Liverpool Juergen Klopp bahkan mengaku ia menitikkan air mata ketika menyaksikan video para petugas medis di luar ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit di Inggris menyanyikan lagu yang sama.

"Seketika saya menangis. Luar biasa. Mereka tak hanya menunaikan tugasnya, tetapi menjalankannya dengan penuh semangat," kata Klopp.

Semua sepakat. Semua satu suara. Lagu itu menjadi sebuah kampanye empati bagi para petugas medis dan masyarakat umum yang saat ini tengah berperang melawan pandemi virus corona yang melanda seluruh dunia.


Menerjemahkan slogan

Penggemar sepak bola jelas mengidentifikasi "You'll Never Walk Alone" dengan Liverpool, kendati ada pula yang menyebut Celtics sebagai pionir membawa lagu itu jadi nyanyian tribun.

Sebagian mengenal bahwa band lokal Liverpool, Gerry and The Pacemakers, sempat merajai tangga lagu Inggris sebelum lagu itu diadopsi jadi nyanyian tribun para suporter Liverpool.

Namun, bisa jadi hanya sedikit yang tahu bahwa "You'll Never Walk Alone" awalnya adalah petikan dari sebuah drama musikal "Carousel" gubahan duo komponis Richar Rodgers dan Oscar Hammerstein II, yang dipanggungkan pertama kali pada 1945.

Salah satu tokoh di drama musikal tersebut menyenandungkan "You'll Never Walk Alone" ketika suami dari tokoh utama meninggal di ujung pisaunya sendiri, setelah gagal dalam sebuah aksi pencurian. Lagu yang sama muncul lagi ketika putri tokoh utama bersiap mengikuti upacara kelulusan pendidikannya.

Sejak diciptakan, "You'll Never Walk Alone" memang dimaksudkan sebagai sebuah lagu penyemangat, bahwa di ujung badai ada langit cerah yang bakal diwarnai nada-nada penuh kegembiraan.

Baca juga: IDI serukan seluruh dokter bersiap tangani pasien COVID-19

Yang harus dilakukan untuk mencapai pemandangan itu "hanyalah" terus berjalan, menembus hujan dan taifun kendati kerap kali harapan dihancurkan tapi dengan merawat baik-baik harapan di dalam hati, seseorang tidak akan pernah berjalan sendirian.

Tak salah jika lagu itu dan kedalaman makna yang terkandung patut menjadi yel-yel penyemangat bagi dunia belakangan ini. Dunia yang dilanda pandemi virus corona, yang hingga 30 Maret 2020 menurut WHO sudah menjangkit lebih dari 690 ribu orang.

Jordan Henderson sebagai kapten tim yang mengadopsi "You'll Never Walk Alone" di gerbang stadion mereka, di logo mereka dan mendengarnya tiap kali Liverpool hendak bertanding, mengingatkan semangat lagu itu harus dijunjung sebagai mentalitas untuk menghadapi kondisi dunia saat ini.

"Tentu kami juga merindukan momen bertanding. Tapi saya ingin tetap menjaga diri, bertahan di rumah dan mengikuti imbauan pemerintah dan otoritas kesehatan," kata Henderson.

"Jika kita semua melakukannya, situasi ini akan bisa berlalu lebih cepat dari yang kita perkirakan."

"Tapi, kita harus tetap berpikir positif. Ini adalah saat yang tepat untuk mengusung semangat lagu yang selalu kami dengar setiap hendak bertanding."


Kita tak pernah sendirian

Liverpool sendiri sudah meluncurkan banyak inisiatif untuk membantu kebutuhan warga kota pelabuhan tersebut selama masa swakarantina diterapkan, seperti bank makanan yang sudah menjadi rutinitas mereka dalam beberapa tahun terakhir.

Klub-klub sepak bola di Inggris ataupun negara Eropa lainnya juga bahu membahu menawarkan bantuan untuk kebutuhan penanganan pandemi COVID-19. Real Madrid, Manchester City dan banyak klub lain menawarkan stadion mereka untuk dialihfungsikan menjadi rumah sakit darurat.

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, dua nama terbesar di sepak bola lebih dari satu dasawarsa terakhir, secara total telah menyumbangkan sekira Rp17 miliar untuk penanganan pandemi virus corona.

Badan sepak bola dunia, FIFA, juga menyiapkan dana solidaritas hingga Rp150 miliar yang akan disalurkan ke WHO untuk melawan COVID-19.

Baca juga: FIFA gandeng WHO untuk perangi pandemi corona

Baca juga: FIFA dan AFC sepakat tunda kualifikasi Piala Dunia zona Asia


Di Amerika Serikat, para pemain dan klub NBA menyalurkan dana sumbangan kepada pekerja arena-arena tempat mereka biasa berlaga, yang kini terancam pemasukannya karena kompetisi ditangguhkan.

Pebalap legendaris Valentino Rossi menginisiasi penggalangan dana untuk pengadaan alat kesehatan di negaranya, Italia, wilayah yang hingga kini paling parah terdampak oleh pandemi virus corona.

Petenis nomor satu dunia Novak Djokovic menyumbangkan sekira Rp18 miliar untuk membantu negaranya, Serbia, memenuhi kebutuhan alat-alat kesehatan yang diperlukan dalam penanganan wabah virus corona.

Pabrikan Formula 1, Mercedes, bergandeng tangan dengan para tenaga medis dan teknisi merancang sebuah alat bantu pernapasan yang bisa lebih cepat diproduksi massal, demi mengurangi ketergantungan terhadap ventilator.

Aksi-aksi solidaritas itu patut menjadi perhatian utama, ketimbang fakta bahwa pandemi corona memang telah menggangu kelangsungan hampir semua ajang olahraga.

Sebab nyatanya, anda, saya, mereka, kita semua menghadapi pandemi ini bersama-sama. Tak seorang pun berjuang sendirian. Tak seorang pun akan berjalan sendirian. You'll never walk alone!

Oleh Gilang Galiartha
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Melihat enam pasien COVID-19 olahraga di ruang isolasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar