Kota Malang deflasi 0,41 persen, terendah di Jawa Timur

Kota Malang deflasi 0,41 persen, terendah di Jawa Timur

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Sunaryo (kiri). (ANTARA/Vicki Febrianto)

deflasi di Kota Malang, didorong adanya penurunan pada kelompok pengeluaran transportasi sebesar 3,21 persen, dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,50 persen
Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat bahwa pada Maret 2020, Kota Malang mengalami deflasi sebesar 0,41 persen, dan merupakan yang terendah di Provinsi Jawa Timur.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan bahwa deflasi di Kota Malang, didorong adanya penurunan pada kelompok pengeluaran transportasi sebesar 3,21 persen, dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,50 persen.

"Deflasi terendah terjadi di Kota Malang sebesar 0,41 persen. Dua kelompok yang mengalami penurunan harga, bobotnya cukup besar sehingga berpengaruh terhadap deflasi," kata Sunaryo, di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu.

Jika dibandingkan dengan kabupaten atau kota lain di Jawa Timur, deflasi Kota Malang merupakan yang terendah. Tercatat, inflasi tertinggi terjadi di Jember sebesar 0,34 persen, diikuti Banyuwangi 0,27 persen, dan Kota Madiun sebesar 0,19 persen.

Selain itu, Kota kediri mengalami inflasi sebesar 0,11 persen, Sumenep 0,09 persen, Probolinggo 0,04 persen, dan Surabaya sebesar 0,01 persen. Kota Malang merupakan satu-satunya kota di Jawa Timur yang mengalami deflasi pada Maret 2020.

"Ini merupakan fenomena yang berbeda, karena pada Maret, berdasarkan catatan selama dua tahun terakhir, Kota Malang selalu mengalami inflasi," ujar Sunaryo.

Sunaryo menjelaskan, pada Maret 2019, Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,36 persen, dan pada bulan yang tahun 2018, tercatat juga mengalami inflasi sebesar 0,12 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, hanya dua kelompok yakni transportasi dan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan. Sementara delapan kelompok lainnya mengalami peningkatan.

Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,18 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,27 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,23 persen.

Selain itu, kelompok pengeluaran pakaian dan alas kaki naik 0,18 persen, penyedia makanan dan minuman atau restoran naik 0,15 persen, kesehatan 0,12 persen.

Kemudian, kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 0,08 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar bangunan naik sebesar 0,01 persen.

"Hanya kelompok pengeluaran pendidikan yang tercatat stabil," kata Sunaryo.

Inflasi kalender Kota Malang hingga Maret 2020, tercatat sebesar 0,28 persen, lebih rendah dari inflasi kalender Jawa Timur yang sebesar 0,80 persen. Sementara inflasi Year on Year (YoY) Kota Malang sebesar 1,13 persen, juga lebih rendah dari Jawa Timur yang sebesar 2,27 persen.

Baca juga: BPS: Inflasi Maret 2020 terkendali
Baca juga: Proyeksi BI inflasi Maret sebesar 0,13 persen, dipicu emas dan bawang


Pewarta: Vicki Febrianto
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pengendalian bahan pangan untuk tekan inflasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar