Dolar menguat dalam 3 hari beruntun, abaikan data suram pekerja di AS

Dolar menguat dalam 3 hari beruntun, abaikan data suram pekerja di AS

Ilustrasi - Dolar Amerika di tengah mata uang utama lainnya di dunia Euro. ANTARA/REUTERS/pri. (ANTARA/REUTERS)

...pandemi Virus Corona mulai memusnahkan ekonomi bahkan lebih cepat dari yang kita duga
New York (ANTARA) - Dolar menguat terhadap mata uang utama lainnya untuk hari ketiga berturut-turut pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena investor berlindung dalam mata uang AS di tengah memburuknya kejatuhan ekonomi akibat wabah Virus Corona.

"Seperti yang kita lihat data buruk datang dari Eropa, Inggris, Italia, jika Anda mencoba untuk bergegas ke mana saja, itu akan menjadi dolar AS dan obligasi AS sebagai tempat yang aman," kata Wakil Presiden Transaksi dan Perdagangan di Tempus Inc, John Doyle di Washington.

Dolar sebagian besar mengabaikan laporan pekerjaan non-pertanian AS yang menunjukkan hilangnya pekerjaan besar-besaran 701.000 bulan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi 100.000 kehilangan pekerjaan.

Kontraksi Maret tiba-tiba mengakhiri 113 bulan berturut-turut pertumbuhan lapangan kerja secara historis. Departemen Tenaga Kerja juga merevisi naik angka Februari menjadi peningkatan 275.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen dari 3,5 persen bulan sebelumnya.

"Turunnya pekerjaan non-pertanian pada Maret, yang sudah mendekati penurunan bulanan terburuk selama krisis keuangan global, menunjukkan pandemi Virus Corona mulai memusnahkan ekonomi bahkan lebih cepat dari yang kita duga," kata Ekonom Senior AS di Capital Economics, Andrew Hunter.

Laporan penggajian (payrolls) non-pertanian mengikuti data Kamis (2/4/2020) yang menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran AS naik menjadi 6,65 juta pada minggu terakhir dari 3,3 juta yang tidak direvisi pada minggu sebelumnya.

Baca juga: Harga emas terangkat 8 dolar, dipicu data suram pekerjaan di AS

Dalam perdagangan sore, indeks dolar AS naik 0,4 persen pada 100,61. Indeks mencatat kenaikan 2,3 persen pada minggu ini, setelah bergerak maju-mundur bulan lalu dari tertinggi ketika terjadi perebutan uang sebelum merosot karena Federal Reserve (Fed) AS membanjiri pasar dengan likuiditas.

Euro melemah 0,4 persen terhadap dolar pada 1,0810 dolar, dengan kerugian mingguan 2,9 persen.

Baca juga: Bursa saham Inggris ditutup merosot, Indeks FTSE 100 jatuh 1,18 persen

Keragu-raguan di antara pemerintah zona euro tentang paket penyelamatan untuk ekonomi kawasan yang tertatih-tatih telah melemahkan euro dalam beberapa hari terakhir.

Yen Jepang, franc Swiss, sterling, dan juga dolar Australia dan Selandia Baru semua melemah karena dolar menguat secara menyeluruh. Dolar terakhir naik 0,5 persen pada 108,42 yen.

Ketika penguncian (lockdowns) berlanjut, dampak ekonomi dari pandemi menjadi lebih nyata, dengan indeks manajer pembelian di zona euro dan Inggris pada Jumat (3/4/2020) menunjukkan penurunan dalam aktivitas bisnis.

“Ketika kita keluar dari penguncian, semua orang akan di-sinkronisasi. China keluar lebih dulu, lalu Italia keluar. Tetapi dunia ini begitu saling terkait. Tidak hebat ketika Anda bisa bekerja di AS, tetapi Anda tidak bisa mengunjungi London," kata Presiden dan Kepala Investasi di manajer mata uang aktif Adrian Lee & Partners, Adrian Lee.

Baca juga: Bursa saham Spanyol menguat, Indeks IBEX 35 ditutup naik 0,11 persen

Baca juga: IHSG akhir pekan ditutup melambung, meski mayoritas bursa Asia rontok



 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menkeu sebut nilai rupiah menguat dibanding Maret

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar