BI ingatkan risiko inflasi akibat "panic buying" dan jelang Ramadhan

BI ingatkan risiko inflasi akibat "panic buying" dan jelang Ramadhan

Ilustrasi: Aktivitas penjualan di pasar Tengah, Bengkyang (ANTARA/Dedi)

Saat ini terdapat beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, selain faktor alam seperti anomali cuaca, bencana alam di sentra produksi makanan, namun juga karena panic buying
Pontianak (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Barat (Kalbar) Agus Chusaini mengatakan pembelian karena panik di tengah wabah Virus Corona baru atau COVID-19 berpotensi sebabkan inflasi.

"Saat ini terdapat beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai, selain faktor alam seperti anomali cuaca, bencana alam di sentra produksi makanan, namun juga karena panic buying atau pembelian karena panik di tengah wabah COVID-19," ujarnya di Pontianak, Sabtu.

Ia menambahkan fluktuasi harga minyak dunia, kelangkaan gula pasir, dan potensi peningkatan harga jelang bulan Ramadhan 1441H/2020 juga sangat berisiko terhadap inflasi.

Baca juga: FAO sebut "panic buying", karantina wilayah bisa picu inflasi pangan

"Berdasarkan pola inflasi yang ada di Kalbar, saat hari besar keagamaan dan tahun baru inflasi terjadi. Inflasi terjadi karena permintaan yang tinggi," kata dia.

Dengan potensi yang ada ke depan, pihaknya dari KPw BI Kalbar dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalbar akan terus hadir di masyarakat untuk menjaga inflasi.

"Secara umum Kalbar ke depan diprakirakan masih berada pada rentang target inflasi nasional 3+1 persen (yoy). Namun demikian, tingkat inflasi tetap rendah dan stabil, demi mencapai pertumbuhan ekonomi daerah yang berkualitas," kata dia.

Baca juga: BI optimistis inflasi terkendali meski beli SUN di pasar perdana

Terkait inflasi Kalbar pada Maret 2020 tekanan harga menurun lebih dalam yang tercermin dari realisasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2020 yang tercatat deflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi bulan Februari yang tercatat sebesar 0,68 persen (mtm).

"Realisasi IHK Maret 2020 ini juga lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 0,10 persen (mtm) dan menempatkan Kalbar pada posisi ke-18 dari 34 provinsi di Indonesia. Dilihat secara historis, realisasi IHK Maret 2020 lebih rendah dari rata-rata inflasi bulan Februari periode 3 tahun terakhir sebesar 0,02 persen (mtm)," jelasnya.

Baca juga: BI perkirakan inflasi Februari lebih rendah, hanya 0,31 persen

Baca juga: BPS: Inflasi Maret 2020 sebesar 0,10 persen

Pewarta: Dedi
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kebutuhan daging sapi di Sumbar 100 ekor perhari

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar