Tak ada yang menyana garis tangan kehidupan. Bahkan Jorge Messi, kelak setelah memperkenalkan belantara sepakbola kepada putranya yang baru berusia lima tahun, di salah satu pojok jalan tempat kelahirannya di Rosario, kota pesisir Argentina, 300 km arah barat daya Buenos Aires. Hatinya merasakan bakat sang buah hati, namun masa kecil bocah lucu bernama Lionel Andres itu penuh dengan drama.

Pada usia delapan, Messi kecil direkrut sang ayah bergabung dengan klub sepakbola miliknya, Grandoli. Aura bakatnya kemudian mengantar Lionel alias Leo masuk klub terkemuka kota Rosario, Newell’s Old Boys pada usia sebelas.

Aksinya mulai mendulang decak kagum bersamaan dengan diagnosa medis yang memvonis dirinya mengidap defisiensi hormon pertumbuhan yang harus ditangani dengan sangat serius atau berhenti mencoba prospek di sepakbola.

Sayangnya klub tersebut akhirnya dengan berat hati melepas Leo ke tangan raksasa FC Barcelona, karena tak sanggup membiayai terapi hormon Lionel yang menghambat pertumbuhan tinggi badan sang bocah.

Pada usia duabelas Jorge dan keluarga Messi hijrah ke Barcelona, ibukota orang-orang Katalunya yang indah dan semerbak aroma setiap ruang yang ditinggalkan gadis-gadisnya.

Setelah terapi atas Leo berhasil, bocah dengan tinggi 169 cm itu lalu bergabung ke Barcelona B dan mulai merintis daya sihir bola dari kedua kaki, kepala dan seluruh gestur tubuhnya. Seperti mendiang Stevie Ray Vaughan, gitaris blues yang dikagumi semua musikus prestisius papan atas, katakan Miles Davies, BB King, Eric Clapton dan Bono. ”Nada dan harmoni mengalir, dan menyatu dalam nafas dan darahnya”, komentar gitaris blues legendaris Buddy Guy.

Seperti itulah Leo, menurut Maradona, dan bahkan kata Cristiano Ronaldo dengan sportif, seterunya yang akan dihadapinya dinihari nanti.

Aktor Hollywood asal Malaga yang juga penggemar berat sepakbola, Antonio Banderas, hanya dapat termanggu menonton kesebelasan Barca menggilas Sevilla dari boks Direktur Nou Camp.

”Saya rasa kali ini Barcelona tak dapat dihentikan oleh siapapun, mereka akan meraih tiga trofi tahun ini. Termasuk kampiun Eropa”, komentar Banderas meyakinkan. Kali ini entah bagian dari akting, atau memang kagum sebagai sesama berdarah Spanyol.

Seperti pejuang-pejuang Catalan lain yang mungkin turun dalam starting 11, macam Viktor Valdez, Carles Puyol, Yaya Toure, Andres Iniesta, Thierry Henry, Etoo dan tentunya Xavi Hernandes, mereka semua mewakili darah sepakbola dalam nadinya.

Mereka terlahir dalam jiwa the art of soccer. Mereka adalah seniman-seniman bola yang ditakdirkan untuk memberi hiburan dengan H besar pada masyarakat yang mungkin melihat perang ini sebagai bentuk lain dari neo-gladiator yang bertarung untuk sebentuk kejayaan di tanah lapang Olimpico de Roma, di hadapan 82.700 penonton dan ratusan juta pasang mata di depan layar kaca.

Di arena yang menjanjikan supremasi sepakbola Eropa itulah petarung-petarung bola dari negeri yang lembab, tanah orang-orang Anglo-Saxon, dari Kerajaan Inggris Raya, hadir menantang kecanggihan anak-anak Barcelona menggoreng dan menggocek habis si kulit bundar.

Di bawah komando Alex Ferguson, panglima veteran Piala Champions, mereka datang untuk mempertahankan hegemoni sepakbola Eropa tahun silam yang mereka genggam erat-erat.

Bek kiri United, Patrice Latyr Evra, pagi-pagi sudah merentangkan kapak perang dan siap berkalang tanah ketimbang membiarkan Messi, Xavi dan Iniesta dan kawan-kawannya memasuki wilayah kesebelasannya.

Di klub makmur seperti Manchester United, seni sepakbola modern diterjemahkan ke dalam pola yang diracik dengan teliti oleh sang godfather, Fergie, begitu dia disapa.

Mereka eksis karena Fergie, berhasil menggembleng orang-orang macam David Beckham, Eric Cantona, Paul Scholes, Steve Bruce, Peter Schemeikel, Solsjaer, Giggs, dan tentu angkatan Ronaldo seperti Wayne Rooney, Michael Carrick, Park Ji-Sung, Dimitar Berbatov, Evra, Nemenja Vidic, Rio Ferdinand dan tentu si gaek Edwin Van der Sar, menjadi petarung yang mengerti sekaligus seni bola dan membaca siasat yang dirancang sang arsitek Fergie.

Selain Liverpool, Arsenal dan juga (coba) dilakukan Totenham Hotspur, maka hanya Manchester United yang sungguh-sungguh berhasil memadukan power khas sepakbola Inggris dengan sentuhan satu-dua apabila dibutuhkan, untuk membalas serangan bertubi-tubi lawan.

Fergie berjanji akan menghamparkan bagaimana sepakbola indah yang taktis disajikan untuk menjinakkan seni sepakbola Barcelona yang telah merebut hati dunia. ”Final nanti akan menghasilkan banyak gol” katanya tanpa merinci siapa yang menang.

Sehingga pantaslah jika clash dua raksasa ini, disetarakan dengan pertempuran seniman bola Belanda versus arsitek-arsitek bola Jerman Barat (secara nasional) pada final Piala Dunia 1974. Atau perang Brasil melawan Denmark dalam perdelapan Piala Dunia 1998 di Perancis. Atau final Piala Eropa 1988 antara Belanda versus Uni Soviet, yang semuanya sungguh-sungguh memanjakan mata dan membahagiakan langsung penonton di stadion dan ratusan juta di layar kaca global.

Kompetisi atau kejuaraan memang terpaksa membuat para peracik dan arsitek di belakang layar meramu taktik dan strategi untuk menjadi juara. Namun apalagi yang harus diracik jika kedua finalis sudah berada di partai puncak.

Mereka wajib mempertontonkan sepakbola bermutu tinggi, serancak mungkin, atas nama peradaban sepakbola demi perdamaian dunia dan menanamkan rasa sportivitas dan penghormatan pada mereka yang terjerembab dalam kekalahan.

Jika United berjaya, maka Barcelona tak perlu berkecil hati, karena mereka dapat bersyukur setidaknya berterima kasih kepada wasit Ovrebo dari Norwegia yang ikut ”membantu” mereka dapat hadir di final.

Sebaliknya jika United terjungkal maka sang arsitek tak perlu terbenam dalam duka karena apa yang telah dicapainya adalah puncak karir, yang sejauh ini dapat mengangkat gelar Sir nya menjadi Lord. Bukankah dua gelar domestik telah mereka raih? Begitu juga dengan kesebelasan dari Katalunya itu.

Partai final tentu bukanlah sirkus, tapi dari sana seharusnya peradaban juga dapat diukur, bagaimana misalnya desainer terkenal Inggris Paul Smith yang terlibat memberi sentuhan gentlemen di kostum kebesaran tandang putih United dicatwalk mereka di Olimpico de Roma. Desainer yang juga memberi kejayaan pada United di podium juara di Moskwa setahun silam. Kata Smith, ”bahagia rasanya melihat kembali kesebelasan luar biasa ini kembali ke podium juara dengan busana yang kembali rancang”.

Sebelas gladiator berseragam merah darah dan biru vertikal akan bertempur mati-matian menghadapi gladiator-gladiator berperawakan besar dari tanah Inggris yang akan mengenakan kostum berwarna putih. Perang yang mewakili dua poros sepakbola Eropa yang nota bene adalah kiblat sepakbola dunia itu akan dipimpin oleh pengadil dari Swiss. Namanya Massimo Busaccha, yang kebetulan juga menjadi pengadil saat Manchester berhadapan dengan Barcelona pada semifinal Champions leg pertama.

Ini adalah pertikaian dua simbol di Eropa, Barcelona mewakili identitas demokrasi rakyat. Sesuai dengan slogan mereka Mes Que Un Club (lebih dari sekadar klub) sebentuk komunitas independen yang menjunjung kemerdekaan (menentang monarki Spanyol), baik secara politik dan kultur.

Barca menentang menggunakan bagian dada dari kostum kebesaran mereka dengan pesan sponsor (bahkan mendukung program bagi anak-anak dunia bekerjasama dengan Unicef), Sementara United bagaimanapun adalah bagian yang integral dari Kerajaan Inggris Raya yang meletakkan sepakbola sebagai bagian dari seni pemasaran.

Namun, apapun istilah yang dikenakan kepada ”perang” impian ini, dan beribu ulasan yang akan membahas skema tunggal yang agresif 4-3-3 yang diusung anak-anak Barca melawan pola 4-4-2 dari Fergie yang bisa sekonyong-konyong berubah menjadi 4-4-1-1.

Final pamungkas ini diharapkan menjadi penghapus dahaga dari tontonan monoton yang diperagakan Manchester ketika bersua klub sepakbola senegaranya, Chelsea tahun lalu dan beberapa laga final Champions sebelumnya.

Penonton di seluruh dunia juga berdoa semoga tak ada lagi adu penalti lagi dalam ”perang” kali ini, please. (*)

Pewarta: Oscar Motuloh
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009