Jakarta (ANTARA News) - Saat ini di Indonesia belum ada harga patokan untuk bahan bakar nabati (BBN), harga yang ada saat ini sekitar Rp9 ribu per liter.

Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Purnardi di Jakarta, Rabu mengatakan harga tersebut terlalu tinggi bagi masyarakat, sementara untuk kalangan industri tidak masalah.

Harga patokan ini, katanya, tergantung pada harga patokan dari pemerintah, dan mengenai harganya belum diterbitkan menjadi peraturan pemerintah (PP), karena sedang dirumuskan oleh Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Supaya penggunaan BBN di masyarakat lebih banyak maka pihaknya mengusulkan agar pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp2 ribu per liter.

Purnardi menjelaskan, besar kecilnya subsidi ini juga tergantung pada harga bahan baku yang digunakan untuk produksi. Bahan baku untuk BBN di Indonesia saat ini sebagian besar digunakan dari tetes tebu dan singkong.

"Padahal kita memiliki potensi untuk memproduksi BBN, terutama untuk biodiesel dan bioethanol," ujarnya.

Saat ini BBN sudah mampu memenuhi kebutuhan minimum dengan penghematan devisa dan perbaikan lingkungan serta kesehatan.

BBN merupakan satu-satunya bahan bakar pengganti energi dalam bentuk cair, dan saat ini banyak digunakan untuk industri farmasi dan kosmetik.

APROBI menargetkan pada 2010 pihaknya mampu memproduksi BBN jenis bioethanol sekitar 214.541 Kilo Liter (KL), pada tahun 2009 ini kapasitas produksi bioethanol sebesar 93 ribu KL.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009