TNBD bantu Orang Rimba jalankan "Besesandingon" hindari COVID-19

TNBD bantu Orang Rimba jalankan "Besesandingon" hindari COVID-19

Foto Orang Rimba bersiap menjalankan “Besesandingon” masuk ke dalam hutan guna menghindari penularan COVID-19. (ANTARA/HO-KLHK)

Semoga kearifan lokal 'besesandingon' yang mereka jalankan saat ini, benar-benar bisa menghindarkan komunitas Orang Rimba TNBD dari penyebaran COVID-19
Jakarta (ANTARA) - Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) membantu logistik bahan makanan untuk Orang Rimba di Jambi menjalankan Besesandingon guna menghindari penularan COVID-19.

Antisipasi yang dilakukan Orang Rimba melalui Besesandingon yakni masuk ke dalam hutan membawa konsekuensi sementara waktu mereka akan jauh dari pusat perekonomian desa atau pasar. Hal ini menyebabkan kesulitan akses untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sudah terbiasa dengan bahan makanan dari pasar.

Sebagai bentuk kepedulian kepada Orang Rimba, TNBD menyalurkan bantuan makanan tambahan untuk 718 Kepala Keluarga (KK) Orang Rimba/Suku Anak Dalam (SAD) yang hidup, dan bermukim di dalam kawasan taman nasional, kata Kepala Balai TNBD Haidir dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Orang Rimba lakukan "Besesandingon" hindari COVID-19

"Semoga kearifan lokal besesandingon yang mereka jalankan saat ini, benar-benar bisa menghindarkan komunitas Orang Rimba TNBD dari penyebaran COVID-19," tutur Haidir berharap.

Menurut Temenggung Bepayung dan mantan Temenggung Tarib yang sekarang menjadi tetua adat, Orang Rimba sudah terbiasa secara turun temurun melakukan Bessesandingon, yaitu memisahkan diri atau menjauhkan diri dari orang sakit atau yang diduga mengidap penyakit menular, termasuk penyakit pilek dan batuk.

Jadi begitu mereka mengetahui tentang penyakit COVID-19, respons yang sama dilakukan oleh mereka.

Akibat pengaruh dari luar, menurut Temenggung Tarib, ada perbedaan atau perubahan dalam menerapkan kebiasaan turun temurun yang dulu sangat ketat dengan menerapkan pantangan dan larangan adat di dalam kelompok.

"Contoh, zaman dulu jika ada yang sakit batuk saja, itu tidak boleh melewati jalan yang biasa dilewati di dalam hutan. Kalaupun terpaksa, si penderita penyakit tersebut harus memberi tanda di ujung dan pangkal jalan, bahwa jalan tersebut baru saja dilewati oleh orang sakit, sehingga jalan tersebut tidak boleh dilewati orang lain yang sehat, selama minimal 7 hari atau 1 minggu. Tanda yang biasa dipasang di ujung atau pangkal jalan adalah ranting pohon atau kayu berduri," ujar dia.

Meski aturan adat seperti ini sudah banyak yang dilanggar oleh generasi sekarang, Besesandingon masih dijalankan oleh hampir seluruh kelompok Orang Rimba di Taman National Bukit Duabelas.

Baca juga: Orang Rimba tolak eksploitasi melalui "Melawan Setan Bermata Runcing"

Baca juga: Maudy Koesnaedy tampilkan pentas kehidupan dan budaya Orang Rimba


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Empat kondisi masyarakat di tengah pandemi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar