Fernando de Noronha, Brazil,(ANTARA News) - Kapal dan pesawat Brazil, Rabu, berkumpul di satu daerah di Atlantik, tempat puing dari pesawat jet Air France ditemukan, tapi harapan rendah atau tipis untuk dapat menemukan kotak hitam yang dapat menjelaskan tragedi tersebut.

Beberapa pesawat militer Brazil serta satu pesawat Falcon 50 milik Prancis serta satu pesawat P-3 Orion AS terbang di atas zona 1.000 kilometer di lepas pantai timur-laut Brazi, kata Angkatan Udara Brazil, demikian dikutip dari AFP.

Yang pertama dari lima kapal Angkatan Laut Brazil dijadwalkan tiba di daerah itu, Rabu malam waktu setempat, guna memulai proses pencarian pecahan pesawat --dan mayat yang mungkin ditemukan.

Sejauh ini belum ada satu mayat pun yang ditemukan, dan harapan tampaknya nihil untuk menemukan penyintas.

Satu pesawat Brazil yang dilengkapi alat sensor dan radar khusus menemukan jalur baru pecahan pesawat Rabu pagi, termasuk satu benda logam yang berdiameter tujuh meter dan bocoran bahan bakar sepanjang 20 kilometer, kata juru bicara Angkatan Udara Kolonel Jorge Amaral kepada wartawan.

Benda tersebut ditemukan 90 kilometer di sebelah selatan jalur lain pecahan pesawat, termasuk satu kursi pesawat, pelampung dan kabel, yang ditemukan sehari sebelumnya.

Tiga kapal barang sipil yang telah menjelejahi kembali daerah tersebut, Selasa, bertindak sebagai penanda, tapi kekurangan kemampuan untuk membatasi serta menemukan kembali pecahan pesawat.

Pemerintah Brazil telah mengumumkan tiga hari berkabung nasional bagi mereka yang berada di pesawat Air France dengan Nomor Penerbangan 447, yang membawa 228 orang ketika jatuh Senin, empat jam setelah melakukan misi penerbangan 11 jam dari Rio de Janeiro menuju Paris.

Di ibukota Prancis tersebut, missa dilakukan guna mengenang mereka, termasuk satu upacara di Kathderal Notre Dame yang dihadiri oleh Presiden Nicolas Sarkozy dan keluarga penumpang berkebangsaan Prancis. Dalam kegiatan itu, pesan belasungkawa dari Paus Benediktus XVI dibacakan.

Pilot Air France tersebut tak mengeluarkan seruan bahaya, tapi pesawat itu mengirim pesan otomatis selama tiga menit yang menyatakan pesawat tersebut telah rusak parah atau mulai pecah.

Prancis memimpin pencarian penyebab bencana itu, tapi kotak hitam pesawat tersebut hampir dapat dipastikan tak dapat ditemukan dari dasar Samudra Atlantik, di dalam air sedalam 6.000 meter.

Direktur lembaga penyelidikan udara Prancis, Paul Louis Arslanian, mengatakan ia "tak terlalu optimistis" bahwa kotak hitam akan ditemukan dari "tempat kedalaman dan bergunung", tempat benda tersebut diduga telah tenggelam.

Ia menambahkan sekalipun kotak hitam tersebut ditemukan, tak ada jaminan data kecepatan dan ketinggian serta rekaman kokpit akan cukup untuk membongkar teka-teki itu.

Dua pejabat di lembaga Prancis tersebut sudah berada di Brazil dan melancarkan tahap awal penyelidikan.

Di antara kapal lain yang menuju lokasi ditemukannya pecahan pesawat adalah kapal penelitian Prancis yang membawa dua kapal selam mini, harapan terbaik guna melacak kotak hitam, yang mestinya mengeluarkan sinyal lokasi.

Namun Pierre Cochonat, dari Lembaga Penelitian Kelautan Prancis, Ifremer, memperingatkan kalau daerah pencarian tak dapat diperkecil, "itu sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami".

Jika konfirmasi akhir diperoleh bahwa semua yang mereka di dalam pesawa Air France tewas, itu akan menjadi bencana terburuk bagi perusahaan penerbangan Prancis dalam 70 tahun sejarahnya.

Itu juga akan menjadi kecelakaan penerbangan sipil terburuk sejak 2001, ketika satu pesawat jet American Airlines jatuh di New York dan menewaskan semua 260 orang di dalamnya.

Semua 216 penumpang di dalam pesawat Air France dengan Nomor Penerbangan AF 447 meliputi 126 pria, 82 perempuan, tujuh anak kecil dan satu bayi. Awak pesawat tersebut terdiri atas 11 warganegara Prancis dan satu orang Brazil.(*)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2009