Surabaya (ANTARA News) - Perhelatan Kontes Robot Indonesia, Kontes Robot Cerdas Indonesia, dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRI-KRCI-KRSI) 2009 untuk tingkat nasional dimulai di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu malam.

Informasi yang diterima ANTARA Jatim dari tim ITS lewat surat elektronik melaporkan kontes robot tingkat nasional itu dibuka Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M) Dikti Prof Suryo Hapsoro mewakili Mendiknas Bambang Sudibyo yang berhalangan hadir.

Ajang kreatifitas mahasiswa yang dijadwalkan berlangsung hingga Minggu (14/6) itu diikuti 47 perguruan tinggi (PT) dan tiga non PT dengan "mempertemukan" tim terbaik dari empat regional se-Indonesia.

Untuk KRI yang mengambil tema "Bersama Kita Bisa Meraih Kemenangan" itu diikuti 24 tim yang terbagi dalam delapan grup. ITS yang diwakili tim Bolokulowo mengalami nasib sial dalam kontes kali ini, karena tim yang berada di grup A bersama ITB dan Politeknik Negeri Bandung (Polban) itu mengalami kegagalan start.

Tim ITS itu mengalami gangguan teknis selama dua menit, sedangkan tim Kujang dari Polban telah melampaui gunung, meski robot traveller terjatuh sehingga kembali lagi di check point 1.

Sementara itu, tim D4=S1 dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS menang mudah melawan Ghen_LabE dari Universitas Bayangkara (Ubhara) Surabaya.

Meski tidak bermain mulus untuk retry (mengulangi) pada check point 2 karena papan penyangga traveller menyentuh tiang, tim andalan itu mampu membunyikan ketiga beduk dalam waktu 1 menit 17 detik.

Keberuntungan ITS juga terlihat pada KRCI divisi Expert Battle, karena robot G.A._Assassin dari ITS bertemu dengan robot Batosay dari Polban.

Batosay yang telah memadamkan api terlebih dahulu tidak sengaja menjatuhkan lilin, sehingga juri akhirnya memutuskan kemenangan G.A._Assassin yang tidak melakukan apa-apa. Batosay dianggap melakukan penalti, sehingga dikenakan skor 0-(-5).

"Perlu diketahui, selain mengandalkan kecepatan dan kekuatan, perlu dipikirkan mengenai strategi dalam pertandingan, mengingat strategi merupakan faktor penting untuk mengalahkan lawan," kata Dr Ir Endra Pitowarno, salah satu tim juri.

Lain halnya dengan ajang KRSI yang baru kali pertama dihelat dalam kontes robot itu. Dalam KRSI, robot-robot yang diwajibkan mampu menarikan Jaipong sesuai iringan musik yang ada didandani dengan berbagai pakaian tradisional layaknya penari Jaipong.

Nuansa seni agaknya terlihat sejak pembukaan melalui persembahan hiburan tari Ramayana. Penari menyerahkan piala Sambhawana Pratimacala (piala untuk juara umum KRI 2009) kepada juri Ir. Dadet Pramadihanto, M.Eng. Ph.D (direktur PENS-ITS), kemudian disampaikan kepada Direktur DP2M untuk diperebutkan. Musik gamelan pun mengiringi pertandingan.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009