Artikel

Mengikhlaskan kenyataan

Mengikhlaskan kenyataan

Umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih saat permukimannya terdampak pemadaman listrik di Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (23/4/2020). Selama pandemi COVID-19, pemerintah menghimbau agar masyarakat untuk melaksanakan Shalat Tarawih di rumah guna mengantisipasi penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.

Jakarta (ANTARA) - Pada Ramadhan 1441 Hijriah, kita mendapatkan sesuatu yang khusus yaitu tamu yang tidak diundang. Tamu itu berupa wabah penyakit yang namanya COVID-19 atau yang dikenal dengan nama virus Corona.

Wabah virus Corona ini disebut pandemi, karena menyerang hampir seluruh negara yang ada di dunia ini. Disebutkan lebih dari 200 negara terinfeksi atau diserang wabah yang mengerikan ini. Pada akhir pekan lalu sudah hampir mencapai angka tiga juta orang yang positif terinfeksi virus Corona, dengan korban jiwa mencapai lebih dari 200 ribu orang.

Kondisi khusus ini tidak hanya meminta kita secara paksa untuk tidak keluar rumah jika tidak terpaksa. Kondisi khusus ini meminta kita untuk tidak berkerumun. Kondisi khusus ini meminta kita untuk tidak bekerja sebagaimana hari biasanya.

Bahkan, bagi kita umat beragama, kondisi Ramadhan 1441 Hijriah ini meminta kita untuk tidak shalat Tarawih di masjid, meminta kita untuk tidak berjamaah shalat rawatib di masjid. Setidaknya kita pada pekan ini sudah lebih dari lima kali tidak shalat Jumat. Kita menggantikan itu dengan shalat Dzuhur di rumah masing-masing atau maksimal berjamaah dengan anggota keluarga kita di rumah.

Kondisi yang menyebabkan manusia tidak rela, tidak ikhlas dengan apa yang terjadi, sebenarnya sudah disinyalir dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 216, yang berbunyi :

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagi kamu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui".

Ayat ini sangat relevan dengan kondisi khusus di bulan Ramadhan seperti sekarang ini. Kita wajar memiliki perasaan "gelo", merasa menyesal karena kita batal melakukan sesuatu atau karena kita ditimpa musibah seperti wabah ini.

Tetapi itu semua adalah suratan, itu semua tanda takdir, itu alam yang bekerja. Namun kita harus segera belajar saudara-saudara, agar rasa tidak suka, agar rasa tidak ikhlas itu tidak menjadi sikap negatif yang kemudian menjadi musibah berikutnya.

Kita harus segera menyadari bahwa apa yang kita alami bersama ini adalah takdir Allah. Mari kita belajar berdamai dengan kenyataan. Mari kita menerima sesuatu yang di luar kehendak kita.

Ini penting agar ke depan kita juga bisa menerima sesuatu yang tidak kita sukai, menerima sesuatu yang berbeda. Sebetulnya kalau kita menengok hal itu, peristiwa ini adalah wajar dan biasa tetapi kita memang perlu latihan dan untuk itu, kita perlu belajar bersama dan saling mengingatkan. Watawaa shaobil haqqi watawaa shaubis shabr.

Mohon maaf jika ada sesuatu yang salah atau kurang. Semoga bermanfaat untuk diri kita dan keluarga. Wallaahu muwafiq ilaa aqwaamit thariq.

*) Ustadz Hamzah Sahal adalah seorang dai (penceramah).

Pewarta: Ustadz Hamzah Sahal *)
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kultum Ramadhan - Dunia digital sarang hoaks

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar