Peshawar, Pakistan (ANTARA News/AFP) - Bentrokan-bentrokan mematikan di lembah Swat Pakistan menyulut kekhawatiran baru Rabu mengenai memburuknya keamanan ketika pemerintah memulangkan ribuan warga sipil yang mengungsi akibat ofensif militer.

Pakistan menyatakan, 13 militan dan satu prajurit tewas di Swat dalam kurun waktu 24 jam meski pemerintah telah mengumumkan bahwa militan telah dikalahkan, dan banyak dari 1,9 juta orang yang mengungsi akibat perang melawan Taliban merasa khawatir.

"Saya khawatir keadaan keamanan akan memburuk di Swat kapan pun," kata Gul Ahmad Khan kepada AFP dari Barikot, dua hari setelah pulang kembali ke Swat selatan dalam sebuah konvoi yang diatur oleh pemerintah.

Khan, yang berprofesi sebagai seorang juru masak, mengatakan, ia senang bisa meninggalkan kamp pengungsi yang padat di daerah dataran rendah yang sangat panas, namun ia tidak mengesampingkan kemungkinan Taliban kembali ke daerah Swat yang dulu dijuluki sebagai Swiss Pakistan itu.

Militer mengatakan bahwa 13 militan, termasuk seorang tersangka "pemimpin teroris" yang sebelummya tidak dikenal, tewas selama tembak-menembak di Swat, tempat Taliban mengobarkan perang dua tahun untuk memberlakukan hukum Islam.

Bentrokan paling mematikan dilaporkan terjadi di dekat markas lama militan Kabal di wilayah utara dimana militer mengatakan bahwa delapan militan, termasuk dua warga asing, dan seorang prajurit tewas dalam tembak-menembak.

Tersangka pemimpin militan tewas di Peochar, sebuah pangkalan lain di Swat -- yang dulu diyakini sebagai markas kepemimpinan lokal Taliban dan tempat pasukan lintas udara terlibat dalam pertempuran mematikan musim panas ini.

Pemerintah telah menyatakan bahwa pasukan akan tetap berada di Swat dan segala upaya dilakukan untuk melindungi warga sipil ketika mereka berusaha membangun lagi kehidupan mereka.

Rabu adalah hari kedua beturut-turut dimana militer melaporkan pembunuhan di Swat setelah mengumumkan kematian sembilan orang pada Selasa pasca masa tenang.

Pekan lalu pemerintah menyatakan bahwa militer telah "melenyapkan" militan di kawasan tersebut.

Daerah suku Pakistan, khususnya Lembah Swat, dilanda konflik antara pasukan pemerintah dan militan Taliban dalam beberapa waktu terakhir ini.

Sekitar 1.700 militan dikabarkan tewas dalam ofensif yang diluncurkan di distrik-distrik Lower Dir pada 26 April, Buner pada 28 April dan Swat pada 8 Mei. Ofensif itu mendapat dukungan dari AS, yang menempatkan Pakistan pada pusat strateginya untuk memerangi Al-Qaeda.

Swat dulu merupakan daerah dengan pemandangan indah yang menjadi tempat tujuan wisata namun kemudian menjadi markas kelompok Taliban.

Perjanjian yang kontroversial antara pemerintah dan ulama garis keras pro-Taliban untuk memberlakukan hukum Islam di sebuah kawasan di Pakistan baratlaut yang berpenduduk tiga juta orang seharusnya mengakhiri pemberontakan Taliban yang telah berlangsung hampir dua tahun.

Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani mendesak rakyat Pakistan bersatu melawan kelompok ekstrim, yang menurutnya mengancam kedaulatan negara itu dan yang melanggar perjanjian perdamaian tersebut dengan melancarkan serangan-serangan.

Para pejabat PBB mengatakan, sekitar 2,4 juta orang mengungsi akibat pertempuran itu -- sebuah eksodus yang menurut kelompok-kelompok hak asasi merupakan perpindahan terbesar penduduk di Pakistan sejak negara itu terpisah dari India pada 1947.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009