Jakarta (ANTARA News) - Teater Koma kembali mengadakan pentas yang ke-118 dengan mengambil lakon "Penggali Intan" karya seniman serba bisa dari Yogyakarta, Kirdjomulyo (1930-2000) pada 1 - 2 Agustus 2009.

Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno dalam jumpa pers di Teater Studio (Teater Kecil) Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat, mengatakan, pentas Penggali Intan merupakan pentas regenerasi Teater Koma karena keseluruhan produksi ditangani oleh angkatan X Teater yaitu angkatan 2000, 2005 dan 2008.

"Pementasan ini bisa dikatakan program regenerasi," kata Nano.

Dia mengatakan "Penggali Intan" dipilih sebagai salah satu lakon aliran realisme dari kurun waktu 1930 - 1960 yang merupakan tahun peletak dasar teater realisme Indonesia.

Setelah diadakannya workshop lakon "Penggali Intan" dari angkatan muda Teater Koma, Paulus Simangunsong dipilih sebagai sutradra karena dirasa berhasil memvisualisasikan karya Kirdjomulyo tersebut.

Pentas Penggali Intan ini disutradarai oleh Paulus Simangunsong, pimpinan produksi Rasapta Candrika dengan pemain utama yaitu Adri Prasetyo sebagai Sanjaya, Rangga Riantiarno sebagai Siswadi, Ledy Yoga S sebagai Sarbini dan Tuti Hartati sebagai Sunarsih.

Sedangkan Paulus Simangungsong mengatakan dirinya berusaha mengeksplore "Penggali Intan" dengan bertemu putri Kirdjomulyo, Ika Yuni Purnama yang datang pada jumpa pers tersebut.

"Penggali Intan" yang mengambil latar 1950-an ini bercerita mengenai kisah dua mantan pejuang kemerdekaan yaitu Sanjoyo (Adri Prasetyo) dan Siswadi (Rangga Riantiarno) yang merantau ke pedalaman Kalimantan untuk menambang intan.

Sanjoyo nekat mendulang intan di Kalimantan setelah sakit hati akbiat gurauan pacarnya Sunarsih yang menginginkan suami kaya.

Suatu pagi, Sanjoyo mendapatkan intan seharga Rp300.000 ketika menambang di belokan sungai.

Bukannya bersyukur karena mendapatkan intan mahal, Sanjoyo merasa tidak puas dan ingin mendapatkan lebih banyak intan lagi meski pacarnya Sunarsih datang kepadanya.

Akan tetapi kilau intan yang disangka membahagiakannya, akhirnya malah membunuhnya karena jatuh ke jurang akibat mengejar Sarbini yang ia curigai telah mengambil intannya.

Lain dari biasanya, pentas Teater Koma di TIM hanya berlangsung dua hari (1-2 Agustus) karena hanya sebagai pembuka bagi teater yang didirikan tahun 1977 untuk mementaskan "Penggali Intan" ke sekolah-sekolah dan universitas serta pusat kebudayaan.

Tetapi Teater Koma sendiri, jelas Ratna Riantiarno, belum memastikan sekolah, universitas dan pusat kebudayaan mana saja yang akan disinggahi untuk mementaskan karya Kirdjomulyo tersebut.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009