Pamekasan (ANTARA News) - Sinden dan penabuh gamelan dari sepuluh negara pentas dalam sebuah pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di Vihara Avalokitesvara, Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu malam.

Para pesinden dan penabuh gamelan itu masing-masing dari Jepang, Belanda, Argentina, Skotlandia, Hongaria, Inggris, Afrika, Indonesia, China, Slovakia.

Pementasan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka merayakan Dewi Kwan In , yakni dewa umat Budha di Kelenteng Vihara Avalokitesvara meraih kesempurnaan ini merupakan pementasan terunik dan tercatat dalam Musium Rekor Indonesia (Muri).

"Pementasan kali ini menunjukkan bahwa seni dan budaya merupakan alat untuk mempererat persaudaraan antara sesama, tanpa membeda-bedakan agama, suka dan asal negara," kata ketua pengurus Vihara Avalokitesvara, Kosala Mahinda.

Pementasan wayang semalam suntuk yang merupakan gabungan dari berbagai kelompok gamelan dari Madura dan Jawa, seperti Surabaya, Yogyakarta, Klaten Boyolali dan Trenggalek ini, mengisahkan lakon berjudul "Wahyu Sri Mangkutoromo", yang berarti wahyu untuk seorang raja.

Menurut Tee Bun Liong, pedalang dalam pementasan itu, dalam lakon ini mengisahkan delapan ilmu yang harus dimiliki seorang pemimpin yang disebut dengan "hasta brata". Antara lain sikap adil, kesabaran, kejujuran dan penuh rasa tanggungjwab.

Menurut pengurus yayasan vihara Avalokitesvara, Kosala Mahinda, selain pementasan wayang semalam suntuk dari 10 negara, yang juga tercatat dalam musium rekor Indoensia dalam rangkaian acara perayaan Dewi Kwan In mencapai kesempurnaan atau wahyu itu ialah tari liang-liong dan kelenteng vihara Avalokistesvara itu sendiri.

Tari Liang-Liong yang dipentaskan dalam acara Sabtu malam ini tergolong unik karena ditampilkan oleh ibu-ibu yang berumur diatas 60 tahun.

"Sedangkan kelenteng vihara Avalokitesvara tergolong unik karena di kelenteng ini ada tiga tempat ibadah. Yakni ibadah umat Budha, Hindu dan umat Islam dalam satu lokasi," terang Kosala.

Pementasan wayang semalam suntuk perwakilan dari 10 negara ini dimulai sekitar pukul 22.00 WIB yang ditandai penyerahan, gunungan wayang oleh Kepala Dinas Pemudan, Olah Raga dan Kabudayaan (Disporabud), Mohammad Yusuf Suhartono kepada Kidalam Tee Bun Liong.

Acara yang disiarkan secara live di sebuah stasiun televisi swasta ini mendapat perhatian warga, mereka terlihat antusias menyaksikan pentunjukan wayang dari berbagai negara ini.

"Ternyata kesenian wayang juga menjadi perhatian warga di luar negeri, bahkan mereka nyinden dan nembang dengan baik juga," kata, seorang penonton berdecak kagum.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009