Artikel

New Normal ala Liga Jerman

Oleh AA Ariwibowo

New Normal ala Liga Jerman

Dua pemain Bayer Leverkusen Julian Baumgartlinger (kiri) dan Sven Bender (kanan) berebut bola dengan pemain Werder Bremen Nick Woltemade (tengah) saat pertandingan lanjutan Bundesliga tanpa penonton di tengah wabah COVID-19 di Stadion Weser, Bremen, Jerman, Senin (18/5/2020). Bayer Leverkusen gilas tim tuan rumah dengan skor 4-1. ANTARA FOTO/Stuart Franklin/Pool via REUTERS/wsj.

Jakarta (ANTARA) - New Normal diartikan oleh jagat sepak bola Jerman, bukan sebatas oase di padang gurun, tetapi keberanian dan keteguhan hati untuk membuka kemudian membuldoser ketakutan demi ketakutan akibat pandemi Covid-19.

Liga Jerman atau Bundesliga kembali bergulir pada akhir pekan silam sebagai peneguhan jaman New Normal telah datang. Layaknya gerbong kereta yang datang, setelah dinanti lama, maka sorak sorai calon penumpang pun berderai dan bergemuruh.

Dia datang, dia datang, kita songsong sepak bola saat mengisi perjalanan jarum waktu New Normal, yang menuntut pribadi atau kelompok berdamai - bukan sebatas berkongsi atau berkompromi - tetapi mengamini bahwa sepak bola sejatinya berlaku tanpa akhir.

Sepak bola bagi Liga Jerman menggasak kemudian mengoreksi karma bahwa sepak bola bukan sebatas peristiwa gol demi gol, bukan sebatas kemenangan demi kemenangan, bukan pula siklus musim demi musin kompetisi. Sepak bola sejatinya: melakoni hidup dengan kreativitas.

Baca juga: Saat Bundesliga mulai lagi

Liga Jerman berencana memainkan sembilan putaran laga yang tersisa tanpa kehadiran penonton, dan mengindahkan protokol kesehatan secara kreatif.

Ini artinya New Normal di sepak bola Jerman mengikuti alur bahwa roda Panzer dari perjalanan hidup manusia melaju secara kreatif menuju kemenangan atas pandemi Covid-19.

Silakan mencermati dan memberi perhatian kepada kreativitas saat menyaksikan bagaimana Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo ingin terlahir kembali. Kedua megabintang itu berharap bahwa Liga Spanyol dan Liga Italia juga kembali bergulir secara kreatif, tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Raksasa-raksasa sepak bola global seperti Inggris, Spanyol, dan Italia masih menggantungkan asa dapat melanjutkan musim kompetisi yang tersisa dengan menanti persetujuan dari pemerintah masing-masing.

Baca juga: Pemerintah beri lampu hijau Liga Premier berlanjut Juni

Klub-klub Liga Inggris terpagut oleh trauma. Adalah ahli psikoanalisa Sigmund Freud yang bilang bahwa perkembangan dari perjalanan hidup manusia di masa depan ternyata ditentukan oleh keberanian berkonfrontasi secara kreatif dengan trauma masa lalu.

Liga Inggris tidak ingin ketinggalan kereta bermerk New Normal yang menuntut orang per orang dan kelompok masyarakat pada akhirnya tiba bersua dengan stasiun pembebasan dari pandemi Covid-19.

Syaratnya, manusia makin kreatif dan makin berdamai - bukan makin berkompromi atau makin berkongsi - bersama dengan sepak bola kehidupan yang mengalir tiada henti agar membuahkan gol demi gol kemenangan.

Baca juga: Sejumlah penyesuaian mewarnai dilanjutkannya Liga Jerman

Liga Jerman layaknya memungut dan menggali secara kreatif pemikir evolusi Teilhard de Chardin yang memproklamasikan bahwa manusia terus berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu secara dinamis.

Terpicu dan tergerak oleh survival of fittest itulah, maka manusia secara terus menerus mengembangkan diri seiring perjalanan waktu.

Persis, Liga Jerman kemudian secara kreatif melanjutkan musim kompetisi 2019/2020 dengan menerapkan biosecure football yang mewajibkan pemeriksaan panas tubuh dari satu persatu pemain sebelum melakoni laga.

Di bangku cadangan, para pemain mengenakan masker dan menjaga jarak duduk antara pemain. Semua itu dilakukan demi memenuhi protokol kesehatan agar memutus rantai penularan Covid-19.

Baca juga: Serie A bergulir lagi setelah 14 Juni

Bagaimana dengan Liga Inggris dan Liga Italia? Sejumlah klub papan atas Liga Inggris demi survival of fittest berkehendak untuk berkompetisi pada pertengahan Juni meskipun sebagian pemain mencemaskan situasi yang belum sepenuhnya New Normal.

Setali tiga uang, Federasi Sepak bola Italia (FIGC) menegaskan bahwa semua kompetisi, termasuk Serie A, akan tetap ditangguhkan setidaknya sampai 14 Juni. Klub-klub Serie A telah kembali menjalani latihan kelompok, namun mereka masih harus menunggu keputusan resmi nasib kelanjutan liga sepak bola profesional Italia tersebut.

Sementara itu, di Liga Spanyol, para pemain kini berlatih dalam kelompok yang terdiri dari sepuluh pemain. Liga Spanyol dijadwalkan dapat dilanjutkan pada 12 Juni.

Baca juga: PM Spanyol isyaratkan La Liga dilanjutkan tapi tanpa penonton

Baik Liga Inggris, Liga Spanyol, maupun Liga Italia sama-sama termotivasi secara kreatif menerjemahkan New Normal dalam sepak bola. Ada tiga asa yang hendak diutarakan kepada seluruh warga dunia.

Asa pertama, masa lampau yang kelam akibat deraan pandemi Covid-19 merupakan masa lampau yang membuat manusia terlempar dalam kesedihan dan terbenam dalam kepedihan. Perjalanan waktu manusia tidak pernah dimulai dari tabula rasa.

Asa kedua, pandemi Covid-19 membebani dan membayangi masa lampau setiap manusia dewasa ini. Tinggal sekarang, apakah manusia mau terus terpenjara dengan situasi untung-malang? Sikap yang patut dijalankan yakni berdamai dengan segala situasi yang mendera.

Asa ketiga, New Normal sebagai masa depan yang menjanjikan harapan, merupakan tugas yang menguji setiap manusia untuk meraih kemenangan atas pandemi Covid-19. New Normal boleh dibilang sebagai tugas serentak pemberian cuma-cuma bagi manusia yang sarat harapan.

Berdamai bersama dengan New Normal telah ditawarkan sebagai tips pembebasan dari belenggu ketakutan akan Covid-19. Salah satu caranya? Sepak bola.

Oleh AA Ariwibowo
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Direksi TVRI patahkan alasan Dewas pecat Helmy soal tayangan asing

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar