Ambon (ANTARA News) - Seorang anggota pramuka dari salah satu SMA di Kota Ambon, diamankan personel Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Senin, karena pada baju bagian belakangnya tertulis Republik Maluku Selatan (RMS).

Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease AKBP Didik Agung Widjanarko ketika dikonfirmasi ANTARA membenarkan hal itu dan mengatakan bahwa anggota pramuka itu diringkus di bangunan pangggung di Pattimura Park di lapangan Merdeka Ambon oleh anggota intel.

"Kami masih mengembangkan penyelidikan atas kasus tersebut. Tulisan itu kemungkinan secara sengaja dibuat rekannya semalam, jadi dia tidak tahu apa-apa," ujarnya.

Kapolres mengakui, anggota pramuka itu sudah diamankan tanpa menggangu pelaksanaan perayaan detik-detik Proklamasi RI ke-64 tingkat Provinsi Maluku yang dipimpin Gubernur Karel Albert Ralahalu.

"Lihat saja kondisi lapangan Merdeka Ambon dan Kantor Gubernur Maluku sebagai pusat perayaan HUT Proklamasi, sangat aman kan," ujar Kapolres.

Seorang personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Setda Maluku Poly Malioy mengatakan, anggota pramuka tersebut diamankan saat hendak membuang air seni pada bangunan panggung yang letaknya sekitar 20 meter di samping kanan panggung utama perayaan HUT Proklamasi.

"Anggota pramuka itu kaget saat diamankan personil intel dan setelah diberitahu ada tulisan RMS di belakang bajunya, dia menjadi bingung," katanya.

Polly menambahkan, tulisan RMS tersebut dengan tinta berwarna hitam, berdiameter sekitar lima centimeter.

Peristiwa ini terjadi sekitar sejam menjelang perayaan HUT Proklamasi ke-64 saat para pejabat sipil dan TNI/Polri mulai berdatangan di kantor Gubernur Maluku. Sedangkan prajurit TNI, Polri, Satpol PP dan Pramuka siaga di lapangan Merdeka Ambon.

Pengamanan upacara peringatan HUT ke-64 Proklamasi Kemerdekaa RI itu sudah dilakukan polisi dan TNI sejak malam renungan suci dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan, Kapahaha, Tantui, Kecamatan Sirimau Ambon.

Pengamanan anggota pramuka yang bajunya bertulis RMS itu merupakan insiden pertama sejak peristiwa "tarian liar" pada perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tahun 2007 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009