Kabul (ANTARA News/AFP) - Tiga warga AS -- dua prajurit dan seorang sipil -- tewas dalam serangan-serangan bom dan penembakan di Afghanistan, yang menambah jumlah korban di pihak pasukan yang membantu mengamankan negara itu menjelang pemilihan umum pekan ini, kata militer, Senin.

Seorang prajurit dan seorang warga sipil tewas di wilayah timur negara itu pada Minggu, hari yang sama ketika tiga prajurit Inggris tewas dalam ledakan di wilayah selatan yang bergolak.

"Seorang anggota pasukan keamanan internasional tewas setelah diserang tembakan senjata ringan oleh gerilyawan ketika ia sedang berpatroli di Afghanistan timur pada 16 Agustus," kata pasukan pimpinan NATO dalam sebuah pernyataan.

Prajurit itu berasal dari AS, katanya.

Sebuah pernyataan terpisah mengatakan, seorang warga sipil yang bekerja untuk militer juga tewas dalam apa yang disebut pasukan itu sebagai insiden serupa.

Seorang prajurit lain AS tewas Senin dalam ledakan bom rakitan di wilayah selatan Afghanistan, kata Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO.

Hampir 40 prajurit internasional tewas di Afghanistan bulan ini, menurut situs icasualties.org, yang mencatat korban-korban di Afghanistan dan Irak.

Menurut situs independen tersebut, 76 prajurit asing tewas pada Juli -- bulan paling mematikan bagi pasukan internasional di Afghanistan. Sepanjang tahun ini sekitar 250 prajurit asing tewas di negara itu, sebagian besar akibat serangan-serangan musuh.

Marinir AS dan pasukan Inggris terus melakukan ofensif besar-besaran di provinsi-provinsi selatan, Helmand dan Kandahar, menjelang pemilihan presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.

Tujuan dari operasi itu adalah mengamankan daerah-daerah tersebut agar petugas pemilu bisa masuk dan pemilih memberikan suara mereka tanpa takut ada serangan.

Terdapat sekitar 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.

Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni tahun lalu, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

Antara 8.000 dan 10.000 prajurit internasional bergabung dengan pasukan militer pimpinan NATO yang mencakup sekitar 60.000 personel di Afghanistan untuk mengamankan pemilihan presiden Afghanistan pada 20 Agustus, kata aliansi itu.

Pemilu yang akan menetapkan presiden dan dewan provinsi itu dipandang sebagai ujian bagi upaya internasional untuk membantu menciptakan demokrasi di Afghanistan, namun pemungutan suara tersebut dilakukan ketika kekerasan yang dipimpin Taliban mencapai tingkat tertinggi.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009