Palangkaraya, (ANTARA News) - Pasak bumi sebagai tanaman khas dari Pulau Kalimantan lebih duluan dipatenkan oleh orang Amerika Serikat, Dosen senior Universitas Palangkaraya (Unpar) Kalimantan tengah (Kalteng), Prof. DR. H. Ciptadi, MS.

"Kasus pasak bumi dipatenkan orang Amerika ini tidak boleh lagi terjadi, karena itu kita harus rajin dan tekun melakukan penelitian mengenai tumbuhan berkhasiat dan sejenisnya," katanya kepada ANTARA di kantornya Palangkaraya, Jumat.

Menurut guru besar bidang biokimia/kimia organik Unpar, pihaknya telah melakukan berbagai penelitian mengenai berbagai kandungan obat yang berada di dalam tanaman khas Kalteng, dan itu akan segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau paten.

H Ciptadi yang juga Ketua Lembaga Penelitian Unpar tersebut menegaskan beberapa obat tradisional telah menjalani proses penelitian, sehingga dapat dipastikan kegunaannya, dan dapat dilaporkan.

Beberapa jenis obat tersebut yakni obat pencahar atau obat yang dapat melancarkan pencernaan secara alami, obat penambah vitalitas dengan tumbuhan tertentu, obat diabetes, obat penunda kehamilan yang tumbuh di Kalteng, tambahnya.

Salah satu tumbuhan Kalteng yang sudah diteliti Unpar, adalah adanya senyawa di dalam tumbuhan Saluang Belum mampu meningkatkan vitalitas kaum lelaki setelah dilakukan penelitian seksama.

Tidak hanya penelitian obat, Unpar juga menggenjot berbagai objek penelitian yang merupakan khas Kalteng, seperti pertanian lahan gambut, dan berbagai penelitian teknologi tepat guna.

Menurutnya, penemuan-penemuan senyawa baru yang ada di daerah ini tidak didahului oleh negara-negara asing.

Perlu diketahui bahwa selama tiga dekade terakhir ini, para ilmuan dan berbagai lembaga riset serta perusahaan obat-obatan besar di dunia berusaha menemukan senyawa baru dari hutan tropis termasuk di hutan Kalteng.

Senyawa baru yang dicari tersebut yang mungkin bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan khususnya mengobati penderita kanker atau penderita HIV.

Hal itu dikarenakan hutan tropis termasuk hutan Kalteng dipercaya sebagai sumber senyawa organik terbesar di dunia.(*)

 

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2009