Yogyakarta (ANTARA News) - Di zaman modern saat ini penyajian produk kesenian harus disesuaikan dengan kebutuhan penontonnya, kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X.

"Oleh karena itu, tidak masalah jika pementasan kesenian tradisional diperpendek waktunya, sehingga penonton tidak jemu dan dapat menikmati secara utuh," katanya di Yogyakarta, Kamis.

Misalnya pentas kesenian tradisional wayang orang, gamelan yang pelan dan lama bisa membuat penonton mengantuk, sehingga jika pertunjukannya lebih dari tiga jam, penonton bisa meninggalkan tempat pementasan.

Selain itu, menurut dia, pertunjukan wayang kulit yang biasanya digelar semalam suntuk, mungkin bisa diperpendek waktunya dengan memadatkan alur cerita tanpa mengurangi makna dari "lakon" yang dipentaskan.

Mengenai keinginan seniman Yogyakarta menjadikan "biennale" seni rupa sebagai lembaga, Sultan mengatakan tentang bentuk "biennale" apakah lembaga atau kepanitiaan, masih dalam pembahasan.

"Jika nanti sudah berbentuk lembaga, setiap menjelang penyelenggaraan `biennale` tidak perlu dibuat panitia lagi," kata Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini.

Ia mengatakan kegiatan kesenian "biennale" yang sudah terselenggara hingga kesembilan kali itu dapat meningkatkan citra Yogyakarta sebagai kota seniman.

Dengan adanya ajang pameran seperti "biennale" yang diselenggarakan setiap dua tahun, menurut dia lukisan-lukisan yang bermutu tinggi bisa dikumpulkan oleh kurator.

Dengan demikian, mutu produk lukisan bisa ditingkatkan, karena adanya seleksi yang dilakukan kurator sebelum karya seni itu ditampilkan dalam ajang "biennale".

Menurut dia, dulu seniman lukis Yogyakarta "door to door" menawarkan lukisannya ke Jakarta dan beberapa kota lain. Sekarang justru kolektor seni yang mencari lukisan langsung ke Yogyakarta, karena banyaknya pameran seni rupa yang digelar, termasuk "biennale".

"Dengan adanya ajang `biennale`, seniman harus membangun manajemen baru, dari manajemen individual menjadi manajemen kelompok. Apalagi jika nanti sudah berbentuk lembaga," katanya.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009