Bariloche, Argentina (ANTARA News/AFP) - Para kepala negara Amerika Selatan menyerang rencana pangkalan Amerika Serikat di Kolombia pada KTT Jumat, dan mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan `pasukan militer asing` terhadap ancaman kedaulatan nasional mereka, tetapi mereka juga ingin berkomunikasi dengan Presiden AS Barack Obama.

Pertemuan yang diselenggarakan di kota pegunungan Argentina, Bariloche, itu mendengarkan kekhawatiran-kekhawatiran pemimpin Venezuela, Hugo Chavez, dan sekutu sayap kirinya bahwa pangkalan itu adalah bagian dari strategi AS untuk bertindak bebas di Amerika Latin, dan mungkin terhadap negaranya yang kaya minyak.

Deklarasi akhir KTT yang ditulis dalam bahasa yang cukup luas memperingatkan bahwa `pasukan militer asing harus tidak menjadi ancaman kedaulatan dan integritas negara Amerika Selatan, dan berdampak bagi stabilitas dan perdamaian regional."

Pernyataan itu dengan sengaja menghindari merujuk langsung kepada militer AS dan Venezuela. Semua 12 presiden yang hadir dalam KTT menandatangani naskah itu, termasuk Presiden Kolombia Alvaro Uribe.

Namun pernyataan tersebut mencerminkan permintaan keras Brazil, Chile dan Argentina bahwa pernyataan menjamin aset-aset militer dan personil AS di Kolombia tidak digunakan untuk keperluan lain selain misi yang mereka tetapkan, yakini memerangi para penyelundup obat dan pemberontak Kolombia.

Sekitar 300 tentara AS kini telah ditempatkan di pangkalan-pangkalan di Kolombia untuk membantu memerangi penyelundupan obat, berdasarkan kerjasama bilateral `Rencana Kolombia`.

Namun perjanjian baru mengizinkan perluasan pasukan menjadi 800 tentara AS dan 600 petugas sipil, dan ini memicu krisis regional yang menggiring diselenggarakannya KTT luar biasa Serikat Negara-negara Amerika Selatan (Unasur) Jumat.

Dengan demikian upaya yang dilakukan Presiden Bolivia, Evo Morales, untuk menandatangani pernyataan presiden lainnya yang menolak rencana pangkalan, gagal.

"Selama ada seragam asing di negara Amerika Selatan, sulit bagi kami untuk bisa menegakkan perdamaian," kata Morales kepada KTT.

Kesepakatan sebentar lagi yang memberikan akses militer AS kepada tujuh pangkalan di Kolombia adalah diduga sebagai `mobilitas untuk melakukan perang`, kata kritik-kritik tajam anti-AS.

"Strategi global AS untuk mendominasi menjelaskan bahwa instalasi pangkalan ini ada di Kolombia," kata Chaves seraya mengacungkan sebuah dokumen yang dia katakan adalah dokumen strategi angkatan udara AS.

Di Washington, juru bicara Pentagon mengatakan, dukumen berjudul `Buku Putih Komando Mobilitas Udara: Strategi Perjalanan Global` itu `hanyalah dokumen akademis.`

Sebuah salinan dokumen tersebut yang diperoleh AFP menyebutkan, kemungkinan pangkalan udara angkatan udara AS di Amerika Latin dipertimbangkan penggunaannya, namun tergantung pada geografi dan keadaan politik.

Chavez, yang belum lama membeli jet-jet tempur canggih dan tank-tank seharga lebih dari empat miliar dolar dari sekutu militer Rusia, mengatakan bahwa meningkatnya kehadiran militer AS di Kolombia bisa berarti bertiupnya `angin perang.`

Uribe, menanggapi beberapa kecaman pada KTT mengatakan, dia `tidak akan menyerahkan satu milimete rpun kedaulatannya` dalam kesepakatan pangkalan itu.

Dia menegaskan bahwa berdasarkan rancangan sewa pangkalan itu, semua fasilitas akan berada di bawah pengawasan pemerinth.

Dalam pertemuan itu, Uribe tampak terkucil, bahkan dengan Presiden Peru, Alan Garcia, yang mendukungnya tentang masalah itu.

"Jika AS akhirnya menempatkan pesawat siluman dan radar-radar di Kolombia, saya tidak akan menandatangani dan menolak dokumen pangkalan tersebut," kata Garcia.

"Tapi jika perjanjian yang dicapai menegaskan daerah Kolombia (yang menjadi subyek kegiatan militer AS), saya tidak melihar adanya ancaman," katanya.

Pertemuan itu merupakan satu kesempatan bagi Unasur untuk membahas krisis regional pertamanya, sejak organisasi itu ditandatangani kesepakatannya tahun lalu.

Beberapa pemimpin menggunakan KTT untuk menyerukan mekanisme formal dalam memecahkan krisis-krisis di masa depan. Mereka juga menandaskan keinginan untuk berkomunikasi dengan Presiden AS Barack Obama. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009