Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI bidang Hubungan Luar Negeri dan Pertahanan, Andreas H Pareira, mendesak dunia internasional untuk memberikan perhatian serius pada "kebiadaban" aparat Malaysia terhadap para pekerja asing, terutama dari Indonesia.

"Sebab, Polisi Diraja Malaysia benar-benar bertindak biadab. Penyiksaan yang dilakukan polisi mereka terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah tindakan sudah di luar batas kemanusiaan," katanya di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan itu kepada ANTARA, mengomentari sejumlah kasus penganiayaan dan penyiksaan dari para majikan, malah termasuk oleh pihak Polisi Diraja Malaysia yang kian tak terkendali belakangan ini.

"Ini (semua tindakan kekerasan dan penyiksaan itu) juga mencerminkan rendahnya peradaban bangsa Malaysia yang tidak mengenal HAM," ujarnya dengan juga menunjuk kasus penganiayaan berat Polisi Diraja Malaysia atas atlet dan wasit karate dari Indonesia tahun lalu yang hingga kini prosesnya tak jelas.

Karena itu, Andreas Pareira sekali lagi mendesak pihak dunia internasional, terutama badan-badan PBB terkait, agar memberikan perhatian serius terhadap tindakan-tindakan biadab aparat Malaysia tersebut.

"Pemerintah dan rakyat Indonesia juga tidak bisa tinggal diam atas penghinaan yang bertubi-tubi yang dilakukan oleh aparat maupun masyrakat Malaysia terhadap orang dan bangsa Indonesia," katanya.

Andreas Pareira menambahkan, kejahatan berulang-ulang itu, baik terkait dengan urusan kemanusiaan, `pemretelan` kebudayaan maupun pelanggaran batas-batas wilayah Negara Indonesia, menunjukkan Malaysia memang bukan tegangga yang baik.

"Tetapi tetangga yang arogan dan tidak berniat hidup berdampingan secara damai," katanya.

Karena itu, katanya, `kita` sebagai bangsa terhina oleh perilaku jahat dan arogan masyarakat Malaysia, tidak bisa mendiamkan begitu saja perbuatan tak senonoh berulangkali tersebut.

"Pemerintah, terutama Presiden RI harus mengambil sikap tegas, sebelum rakyat mengambil sikap sendiri-sendiri terhadap Orang Malaysia dan bangsa Melayu yang perlu pendidikan budi pekerti itu," ujar Andreas Pareira lagi.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009