Bisnis hotel di Pekanbaru mulai menggeliat setelah PSBB berakhir

Bisnis hotel di Pekanbaru mulai menggeliat setelah PSBB berakhir

Seorang resepsionis mengenakan alat pelindung diri saat menerima tamu di Hotel Grand Zuri, Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (10/6/2020). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Setelah PSBB bisnis makin baik tapi belum terlalu signifikan
Pekanbaru (ANTARA) - Bisnis perhotelan di Kota Pekanbaru perlahan mulai menggeliat dengan tingkat okupansi atau hunian kamar mengalami sedikit peningkatan, setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Provinsi Riau berakhir pada 28 Mei 2020.

Berdasarkan pantuan ANTARA di Kota Pekanbaru, Rabu, sejumlah hotel yang sebelumnya tutup karena mengalami kerugian terdampak wabah COVID-19 mulai beroperasi lagi. Hotel-hotel yang kini buka lagi diantaranya Hotel Royal Asnof dan Winstar Hotel. Pengelola hotel menerapkan protokol kesehatan COVID-19 untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi tamu dan pegawai mereka.

Seperti di Hotel Grand Zuri Pekanbaru, pengelola hotel menerapkan protokol kesehatan pada semua layanan mulai dari pengukuran suhu badan di pintu masuk, penyediaan cairan hand sanitizer, penjarakan (physical distancing) di restoran, lift, dan pegawai wajib mengenakan alat pelindung diri saat bekerja.

Kursi-kursi di restoran dikurangi agar tamu bisa mengatur jarak aman. Selain itu, setiap tamu juga diwajibkan mengenakan masker.

“Setelah PSBB bisnis makin baik tapi belum terlalu signifikan. Tamu-tamu setia kami mulai ada yang datang, meski belum signifikan,” kata GM Hotel Grand Zuri Pekanbaru, Muhammad Hardi.

Seorang koki mengenakan alat pelindung diri saat memasak di dapur Hotel Grand Zuri, Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (10/6/2020). (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Ia mengatakan okupansi hotel tersebut terjun bebas karena dampak pandemi dari normalnya 83 persen menjadi di bawah 20 persen. Setelah PSBB berakhir, lanjutnya, tamu-tamu mulai ada lagi sehingga tingkat okupansi merangkak naik berkisar 20-30 persen. Meski begitu, tamu hotel lebih banyak warga lokal Pekanbaru dan daerah terdekat, seperti Kabupaten Bengkalis dan Siak.

Menurut dia, dampak wabah COVID-19 lebih parah ketimbang bencana asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang rutin terjadi di Riau setiap tahun.

“Kalau dampak asap tidak separah wabah Virus Corona, karena paling hanya beberapa hari terus turun hujan asap hilang. Kalau sekarang ini benar-benar habis, karena tamu-tamu kita mayoritas adalah pemerintah sedangkan sekarang kegiatan pemerintah tidak ada karena pegawai bekerja dari rumah,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua PHRI Riau, Nofrizal, mengatakan okupansi hotel sejak April sangat rendah, yakni di bawah 10 persen sedangkan biaya operasional sangat tinggi. Pada bulan April, PHRI mendata ada enam hotel yang sudah terkonfirmasi tutup sementara antara lain Hotel Royal Asnof, Prime Park, Amaris, Madina, Oase dan Winstar Hotel.

Selain itu, Nofrizal mengatakan ada pusat pusat konvensi dan restoran termasuk dalam naungan PHRI juga tutup, yakni Pekanbaru Convention & Exhibition (SKA Co-Ex) dan Sultan Resto. Dari semua hotel, restoran dan pusat konvensi yang ditutup tersebut, ada sekitar 300 pegawai yang terpaksa dirumahkan.

PHRI Riau berharap ada kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah untuk kelangsungan bisnis tersebut dalam kondisi pandemi COVID-19 saat ini. “Untuk pembayaran pajak dan lain lain kita mengharapkan adanya keringanan dan stimulus dari pemerintah,” harapnya. 


Baca juga: Okupansi hotel anjlok tinggal 15 persen di Riau

Baca juga: Tingkat okupansi hotel di Sulawesi Selatan hanya 30 persen

Baca juga: Okupansi hotel di Yogyakarta merosot tajam


Pewarta: FB Anggoro
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Cerita Narsih tukang jamu keliling penerima bantuan pemerintah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar