Beijing catat 36 kasus baru COVID-19 terkait klaster pasar Xinfadi

Beijing catat 36 kasus baru COVID-19 terkait klaster pasar Xinfadi

Seorang anggota staf mengingatkan para pendatang asing untuk mengisi kartu kedatangan di Bandar Udara Intarnasional Liuting, Qingdao, Provinsi Shandong, China, pada 5 Maret 2020. ANTARA/HO-Xinhua/mii/TM/aa.

Beijing telah memasuki periode yang luar biasa
Beijing (ANTARA) - Otoritas medis Beijing mencatat 36 kasus baru COVID-19 pada Minggu, seluruhnya terkait dengan pasar grosir makanan dan meningkatkan kekhawatiran adanya lonjakan di negara yang telah mengurangi infeksi virus corona secara tajam.

Ibu kota China itu telah memerintahkan pengujian terhadap siapa saja yang terkait dengan pasar Xinfadi, setelah distrik tersebut menyatakan "masa perang" dan Beijing melarang acara pariwisata serta olahraga di tengah kekhawatiran akan gelombang baru pandemi.

"Beijing telah memasuki periode yang luar biasa," kata juru bicara kota Xu Hejian dalam konferensi pers, Minggu.

Kasus baru yang tercatat pada Sabtu (13/6) dan 43 kasus lain yang dilaporkan dalam tiga hari terakhir terkait dengan pasar di Distrik Fengtai di barat daya Beijing, menurut data otoritas kesehatan setempat.

Baca juga: China akan jadikan vaksin COVID-19 sebagai "barang publik global"
Baca juga: Enam pemain timnas U19 China diskors karena langgar aturan epidemi


Dari 36 orang baru yang terinfeksi, 12 orang di antaranya tinggal di kompleks perumahan untuk pekerja di Xinfadi. Hampir seluruhnya bekerja atau berbelanja di dalam pasar.

Salah satu yang terinfeksi adalah karyawan berusia 56 tahun yang bekerja untuk perusahaan bus bandara Beijing, yang berbelanja di pasar tersebut pada 3 Juni dan mengalami gejala dua hari kemudian.

Beijing News melaporkan pria tersebut tidak bekerja di bandara selama berbulan-bulan dan tidak berinteraksi dengan wisatawan.

Pejabat kota pada Sabtu memutuskan bahwa siapa pun yang pernah ke atau melakukan kontak dengan orang-orang yang telah ke Xinfadi sejak 30 Mei akan diminta untuk melapor ke kantor atau unit perumahan mereka dan diuji, menurut laporan Beijing News.

Siapa pun yang bekerja di pasar atau tinggal di dekatnya juga harus diuji, kata laporan itu.

Selain itu, juru bicara otoritas kesehatan Beijing Gao Xiaojun mengatakan bahwa siapa pun yang mengalami demam akan diberikan tes asam nukleat dan serologi untuk mendeteksi virus corona, tes darah, dan CT scan.

Fasilitas medis tidak diperbolehkan menolak pasien dengan gejala demam, kata Gao.

Pejabat kota memerintahkan sampel diambil dari pasar dan untuk itu didesinfeksi sepenuhnya, kata Beijing News.

Setidaknya 10 kota, termasuk Harbin dan Dalian, telah mendesak warga untuk tidak melakukan perjalanan ke Beijing dan melaporkan kepada pihak berwenang jika mereka melakukannya baru-baru ini.

Pihak berwenang menutup pasar Xinfadi sebelum fajar pada Sabtu, setelah tujuh orang yang baru-baru ini ke pasar ditemukan memiliki virus dalam dua hari sebelumnya.

Lebih dari 1.500 ton makanan laut, 18.000 ton sayuran, dan 20.000 ton buah diperdagangkan di pasar setiap hari, menurut situs pasar tersebut.

Sumber: Reuters

Baca juga: Beijing dapati satu kasus baru setelah 55 hari nihil COVID-19
Baca juga: Harvard perkirakan virus corona menyebar di China sejak Agustus 2019

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

11 juta dosis vaksin COVID-19 tahap keempat tiba di Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar