Lombok Utara cegah abrasi dengan 5.420 bibit mangrove

Lombok Utara cegah abrasi dengan 5.420 bibit mangrove

Puluhan masyarakat dari berbagai unsur melakukan penanaman bibit mangrove di kawasan pantai Muara Lempenge, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, NTB. ANTARA/Awaludin/am.

Ada 18 titik pantai di Lombok Utara yang terancam abrasi
Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, menyiapkan sebanyak 5.420 batang bibit mangrove yang akan ditanam hingga akhir 2020 untuk mencegah abrasi pantai dan sebagai upaya menciptakan destinasi wisata bahari yang hijau.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Lombok Utara, Abdul Gaib Annas, di Lombok Utara, Rabu, mengatakan ribuan batang bibit mangrove kualitas super tersebut untuk menghijaukan 18 titik rawan abrasi pantai di daerahnya.

"Ada 18 titik pantai di Lombok Utara yang terancam abrasi dan harus cepat ditanggulangi. Salah satu caranya adalah dengan menanam mangrove," katanya.

Ia mengatakan pihaknya sudah melakukan penanaman bibit mangrove sebanyak tiga kali. Tahap pertama sebanyak 600 batang bibit ditanam di Teluk Sedayu, Kecamatan Pemenang. Penanaman dilakukan bersama Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB.

Penanaman tahap kedua dilakukan di pantai Muara Putat, Kecamatan Pemenang. Sebanyak 1.000 batang bibit mangrove di tanam di kawasan pantai tersebut.

Baca juga: Nadine Chandrawinata curhat batal tanam mangrove gara-gara sampah

Baca juga: LIPI: Hutan bakau Indonesia dalam kondisi baik


Abdul menambahkan penanaman tahap ketiga dilakukan di kawasan pantai Muara Lempenge, Kecamatan Gangga. Sebanyak 1.000 batang bibit mangrove kualitas super ukuran panjang 100-125 centimeter ditanam bersama dengan anggota Polres Lombok Utara, Palang Merah Indonesia, dan masyarakat Desa Rempek.

"Semua bibit mangrove kualitas super yang sudah kami tanam didatangkan dari Pulau Jawa, karena di Lombok belum ada," ujarnya.

Menurut dia, tujuan penanaman bibit mangrove tidak hanya untuk menciptakan kawasan hutan mangrove di daerah pantai agar tidak terjadi abrasi. Tapi juga untuk membentuk suatu kawasan destinasi wisata bahari yang hijau.

Abdul menambahkan kecenderungan masyarakat yang berwisata ke pantai adalah melakukan swafoto dengan latar laut lepas. Oleh sebab itu, pihaknya ingin memberikan kontribusi terhadap sektor pariwisata daerah dengan mendesain sebuah kawasan hutan mangrove yang tertata rapi sehingga bisa dimanfaatkan untuk berswafoto.

"Beberapa kawasan pantai yang penuh dengan tanaman mangrove ramai dikunjungi wisatawan. Rata-rata mereka berswafoto. Nah, kami ingin di Lombok Utara juga ada seperti itu. Jadi tidak hanya pelestarian lingkungan, tapi ada dampak ekonomi juga bagi masyarakat," katanya.

Baca juga: Peneliti usul moratorium konversi mangrove cegah perubahan iklim

Baca juga: Perlindungan 3,49 juta ha mangrove lebih penting dari rehabilitasi

Pewarta: Awaludin
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tekan kerugian, Gili Hotel Asosiasi minta pembebasan pajak selama penanganan Covid-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar