BMKG pasang tiga alat peringatan dini gempa bumi di Alor NTT

BMKG pasang tiga alat peringatan dini gempa bumi di Alor NTT

Kepala Stasiun Geofisika Alor, Nusa Tenggara Timur, Sumawan (kanan) sedang memberikan penjelasan tentang fungsi WRS kepada sejumlah anggota SAR Pos SAR Alor. ANTARA/HO-BMKG Alor/aa.

Kabupaten Alor merupakan salah satu daerah rawan bencana gemba bumi dan tsunami
Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memasang tiga unit alat penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami atau Warning Reciever System (WRS) di Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Stasiun Geofisika Alor Sumawan ketika dihubungi di Kupang, Kamis, mengatakan pemasangan peralatan itu sebagai langkah antisipasi terjadinya bencana.

Baca juga: Gempa magnitudo 4.4 guncang Alor

Sumawan mengatakan Kabupaten Alor merupakan salah satu daerah rawan bencana gemba bumi dan tsunami di NTT.

"Pada tahun 2020 BMKG melakukan pemasangan tiga unit alat WRS sebagai pusat penyebaran informasi gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Alor," tegas Sumawan.

Tiga lokasi yang dipasang peralatan WRS New Generation yaitu Kantor Bupati Alor, Pos SAR Alor dan di Stasiun Geofisika Alor.

Ia mengatakan fasilitas WRS itu sangat penting untuk penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, mengingat wilayah Indonesia merupakan bagian dari jalur gempa dunia yang terbentang dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Alor, Laut Banda, Seram, Sulawesi, Maluku Utara dan Papua.

Baca juga: Gempa magnitudo 3,3 guncang Alor

Ia menjelaskan, sebagai wilayah yang terletak pada jalur gempa aktif, kondisi fisiologi wilayah Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas tumbukan tiga lempeng tektonik dunia yaitu lempeng Indo-Australia, Erusia dan Pasifik.

"Ketiga lempeng tektonik tersebut bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain menjadikan wilayah Indonesia sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di dunia," kata Sumawan.

Menurut dia, hasil monitoring BMKG menunjukkan selama periode 2008-2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 5.818 kali, gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 347 kali dan 2 tahun sekali terjadi gempa berpotensi tsunami.

Dikatakannya, BMKG memiliki tugas dan kewajiban dalam menyediakan informasi gempa dan peringatan dini tsunami yang tertuang dalam UU Nomor 31 Tahun 2009, dan Perpres Nomor 93 Tahun 2019.

Baca juga: Gempa 5,0 SR guncang Alor NTT

Sebagai salah satu implementasi dari tugas dan kewajiban tersebut demikian Sumawan, BMKG melaksanakan kegiatan pemasangan alat penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami yaitu Warning Receiver System (WRS) di berbagai wilayah rawan gempa dan tsunami di Indonesia termasuk di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Dikatakannya, percepatan penyebarluasan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami agar para pihak dapat mengambil langkah penting dengan cepat dalam penanganan bencana, sehingga memberikan manfaat nyata dalam menyelamatkan masyarakat dari bencana.

"Peralatan WRS NewGen dapat menyajikan informasi dalam waktu kurang dari 3 menit bahkan bisa dalam waktu 2 menit setelah terjadi gempa bumi, sehingga berbagai pihak terkait seperti BPBD atau pemangku kebencanaan untuk segera mengambil respon cepat guna melakukan langkah upaya mitigasi sehingga diharapkan dapat mengurangi korban jiwa dan dampak gempa lainnya secara dini," tegas Sumawan.

Ia berharap dengan tersedianya WRS di tiga lokasi di Kabupaten Alor sehingga informasi gempa bumi dan tsunami akan meningkatkan kesiapsiagaan para petugas siaga bencana dan segera dapat mengambil tindakan yang di perlukan dalam penanggulangan bencana. 

Baca juga: Wilayah tenggara Kabupaten Alor-NTT diguncang gempa 4,2 SR

Pewarta: Benediktus Sridin Sulu Jahang
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tertahan di Pelabuhan Lembar,  puluhan penumpang asal NTT berharap bisa segera pulang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar