Iran ancam balas serangan siber di balik insiden Natanz

Iran ancam balas serangan siber di balik insiden Natanz

Ilustrasi. Suasana pembangunan kembali reaktor nuklir air berat di Kota Arak, Iran, Senin (23/12/2019). Iran meluncurkan pembangunan kembali sebagian reaktor air berat Arak pada Senin, sebuah langkah yang tidak melanggar batasan internasional namun menunjukkan mereka mengembangkan sektor ini meski dalam tekanan Amerika Serikat. ANTARA FOTO/West Asian News Agency via REUTERS/wsj.

Dubai (ANTARA) - Iran menyatakan akan melakukan aksi balasan terhadap negara mana pun yang melancarkan serangan siber pada sistem nuklir mereka, usai kebakaran terjadi di fasilitas nuklir Natanz, Kamis (2/7) pagi, yang disebut-sebut akibat sabotase siber.

"Merespons serangan siber adalah bagian dari wewenang pertahanan negara. Jika terbukti bahwa negara ini menjadi target serangan siber, maka kami akan membalas," ujar kepala badan pertahanan sipil Iran, Gholamreza Jalali.

Situs nuklir penambahan uranium Natanz, yang kebanyakan lokasinya berada di bawah tanah, adalah satu dari beberapa fasilitas nuklir Iran yang dipantau oleh pengawas dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) di bawah naungan PBB.

Pada hari yang sama, kantor berita IRNA menyatakan kemungkinan sabotase dilakukan oleh musuh-musuh negara, misalnya Israel dan AS, meskipun tidak dituduhkan secara langsung.

"Sejauh ini, Iran telah mencoba untuk mencegah krisis lebih lanjut juga mencoba formasi untuk keadaan tak terduga. Namun dengan aksi melewati garis batas Republik Islam Iran yang dilakukan oleh negara-negara musuh, khususnya rezim Zionis dan AS, berarti strategi itu harus diperbaiki," tulis IRNA.

Badan keamanan Iran menyebut pada Jumat (3/7) bahwa penyebab kebakaran di Natanz telah diketahui, namun akan diumumkan kemudian pada saat yang tepat "karena pertimbangan keamanan."

Sumber: Reuters

Baca juga: Iran: tidak ada kerusakan akibat insiden di fasilitas nuklir Natanz

Baca juga: Iran berencana ganti peralatan uranium di Natanz

Baca juga: Iran siap berunding jika AS minta maaf keluar dari perjanjian nuklir


 

Ketika kapal perang Iran kali pertama singgah di Indonesia

Penerjemah: Suwanti
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar