Israel bilang "tak mesti" di balik semua insiden situs nuklir Iran

Israel  bilang "tak mesti" di balik semua insiden situs nuklir Iran

Sejumlah awak media mengikuti tur pembangunan kembali reaktor nuklir air berat di Kota Arak, Iran, Senin (23/12/2019). (ANTARA FOTO/West Asian News Agency via REUTERS/wsj.)

Tak setiap kejadian yang berlangsung di Iran mesti berkaitan dengan kami
Yerusalem (ANTARA) - Menteri pertahanan Israel mengatakan pada Minggu pihaknya tak "mesti" di balik setiap kejadian misterius di Iran, setelah kebakaran di situs nuklir Natanz mendorong beberapa pejabat Iran mengatakan kejadian itu hasil sabotase siber.

Israel, yang secara luas diyakini merupakan satu-satunya kekuatan nuklir di kawasan itu, bersumpah tak pernah membiarkan Iran memiliki senjata atom, seraya mengatakan Teheran menganjurkan kehancurannya. Iran membantah pernah mengupayakan persenjataan nuklir dan mengatakan program atomnya untuk tujuan damai.

Situs bawah tanah Natanz, tempat bangunan satu lantai terbakar sebagian pada Kamis, merupakan bagian utama program pengayaan uranium Iran dan dipantau oleh para pengawas Badan Energi Atom Internasional, penjaga nuklir PBB.

Ditanya apakah Israel ada kaitannya dengan "ledakan-ledakan misterius" di situs nuklir Iran, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan: "Tak setiap kejadian yang berlangsung di Iran mesti berkaitan dengan kami."

"Semua sistem itu rumit, sistem itu punya rintangan keamanan yang sangat tinggi dan saya tak yakin mereka selalu tahu bagaimana merawatnya," kata Gantz kepada Radio Israel.

Tiga pejabat Iran yang berbicara kepada Reuters mengatakan mereka berpendapat sabotase siber terlibat dalam kebakaran Natanz, namun tak memberikan bukti. Dua pejabat mengatakan Israel dapat berada di balik peristiwa itu.

Sebuah artikel oleh kantor berita negara Iran IRNA menyebut apa yang ia namakan kemungkinan sabotase oleh para musuh seperti Israel dan Amerika Serikat, meskipun artikel itu tak menuduh salah satu negara itu secara langsung.

Pada 2010, virus komputer Stuxnet, secara luas diyakini dikembangkan oleh AS dan Israel, ditemukan setelah virus itu digunakan menyerang Natanz.

Bulan lalu, menteri keamanan Israel Zeev Elkin mengatakan Iran berupaya meningkatkan serangan siber pada sistem penyediaan air Israel pada April.

Iran membatasi pekerjaan nuklirnya dengan imbalan pencabutan sebagian besar sanksi global di bawah perjanjian pada 2015 dengan enam negara besar dunia. Iran mengurangi pemenuhan janji membatasi program nuklirnya sejak AS menarik diri pada 2018.

Reuters

Baca juga: Iran ancam balas serangan siber di balik insiden Natanz

Baca juga: Iran: tidak ada kerusakan akibat insiden di fasilitas nuklir Natanz

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Aneksasi Israel dan COVID-19 perparah kondisi rakyat Palestina

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar