Beijing gelar UN, peserta karantina boleh ikut

Beijing gelar UN, peserta karantina boleh ikut

Dok - Para siswa Sekolah Menengah 39 Beijing belajar tari jaipong pada 28 November 2018. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Kami juga telah menyiapkan tiga ruang terpisah. Semua siswa wajib diukur suhu badannya sebelum masuk ke areal sekolah. Kalau ada siswa yang suhunya tidak normal, langsung kami bawa ke tempat khusus itu untuk diukur kembali dan guru psikologi akan dis
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Beijing menggelar ujian nasional tingkat SMA mulai Selasa (7/7) di tengah serangan gelombang kedua COVID-19, namun siswa yang sedang menjalani karantina tetap diperbolehkan ikut ujian yang sekaligus menjadi ajang seleksi masuk perguruan tinggi.

Sebanyak 49.225 siswa dari 132 sekolah menengah terdaftar sebagai peserta yang akan mengikuti UN di 2.867 ruangan yang didisain secara khusus, demikian data Komisi Pendidikan Kota Beijing (BEC).

"Ini merupakan tantangan terbesar (bagi otoritas pendidikan dan peserta didik)," kata Li Yi selaku juru bicara BEC kepada pers, Senin.

Pemerintah daerah Ibu Kota tersebut telah menginstruksikan semua lembaga pendidikan di segala jenjang untuk menyusun rencana secara terperinci penyelenggaraan UN yang dikenal dengan "gaokao" itu di dalam ruangan selama empat hari mulai Selasa besok sesuai dengan prosedur kesehatan di tengah wabah COVID-19.

Menurut Li, sejak Jumat (10/7), beberapa sekolah yang menyelenggarakan UN telah menyiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan.

Para siswa harus menggunakan cairan disinfektan sebelum ujian berlangsung dan pengatur suhu ruangan (AC) tidak boleh diaktifkan untuk menghindari penyebaran virus.

"Semua siswa juga diwajibkan mengenakan masker selama ujian berlangsung. Para staf penyelenggara ujian wajib menjalani tes asam nukleat, namun tidak bagi pelajar," ujar Li dikutip media resmi setempat.

Untuk membantu kelancaran UN, Sekolah Menengah 12 Beijing di Distrik Fengtai telah melakukan simulasi pada Jumat lalu.

Distrik Fengtai merupakan lokasi  Pasar Induk Xinfadi yang menjadi tempat mulai ditemukannya kasus COVID-19 gelombang kedua pada 11 Juni.

Baca juga: China larang guru beri pr melalui medsos
Baca juga: China akan rekrut 10.000 pensiunan guru untuk sekolah di pedesaan


Kepala Sekolah Menengah 12 Fengtai, Jiang Yanfu, telah menyiapkan 36 ruang ujian yang masing-masing dapat menampung 20 siswa.

"Kami juga telah menyiapkan tiga ruang terpisah. Semua siswa wajib diukur suhu badannya sebelum masuk ke areal sekolah. Kalau ada siswa yang suhunya tidak normal, langsung kami bawa ke tempat khusus itu untuk diukur kembali dan guru psikologi akan disiapkan di tempat itu agar siswa tersebut tetap tenang," ujarnya.

Disiapkan meja di luar ruang ujian yang dilengkapi dengan disinfektan, masker, dan tisu.

Di ruang terpisah yang digunakan dalam keadaan darurat dengan masing-masing berkapasitas sembilan siswa telah dilengkapi peralatan disinfektan ultraviolet. Para pengawas di tempat itu mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

Para pelajar yang sedang menjalani karantina tetap diizinkan mengikuti ujian, namun hanya seorang diri di dalam satu ruangan khusus.
Pemerintah setempat juga telah menyediakan kendaraan pribadi bagi pelajar yang dikarantinan itu untuk menghindari penularan.

Di China, sekolah menengah menampung peserta didik SMP dan SMA dengan masa pendidikan selama enam tahun. 

Baca juga: 40 persen pelajar China kembali bersekolah, lulusan dibantu cari kerja
Baca juga: Sebagian sekolah di China mulai buka lagi

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar