Islamabad (ANTARA News/AFP) - Militer Pakistan pada Senin mengatakan jumlah kematian dalam serangan militer besar-besaran terhadap gerilyawan Taliban dalam 10 hari terakhir mencapai 227 orang.

Sebanyak 19 anggota kelompok garis keras itu tewas dalam dua hari terakhir, kata militer dalam satu pernyataan.

Jumlah itu menambah kematian di pihak gerilyawan menjadi 197 orang dalam gempuran sengit dalam 10 hari terakhir yang didukung oleh pesawat dan helikopter tempur, kata militer.

Pihak tentara mengatakan, enam serdadunya gugur dalam serangan darat di Waziristan Selatan, namun pihak gerilyawan Al-Qaeda dan Taliban mengatakan pihaknya menewaskan 30 tentara.

Keterangan pihak tentara dan gerilyawan tersebut tidak dapat dikonfirmasi karena para wartawan dan para pekerja bantuan kemanusiaan dilarang masuk ke medan pertempuran.

Serangan sengit dilaporkan sedang dilancarkan oleh militer ke Sararogha, kawasan yang selama ini menjadi benteng pertahanan gerilyawan.

Pihak militer mengklaim telah mencapai kesuksesan besar dengan menaklukkan Kotkai, kota kelahiran pemimpin Taliban Pakistan, Hakimullah Mehsud.

Dalam pertempuran untuk merebut desa Ghalai dari tangan gerilyawan -- jalur utama yang menghubungkan kota Kotkai dan Sararogha -- enam tentara dan 10 gerilyawan tewas, kata militer.

Tentara juga mengklaim berhasil merebut jalur utama yang menghubungkan wilayah timur dan barat wilayah itu.

Sekitar 30.000 tentara mengambil bagian dalam pertempuran melawan sekitar 10.000-12.000 gerilyawan di kawasan suku semi-otonomi itu.

Para pekerja bantuan mengatakan sebanyak 200.000 orang kehilangan terlantar akibat pertempuran itu.

Pengalaman pertempuran sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar serangan militer di kawasan lingkar suku itu tak berhasil karena jumlah kematian di pihak militer mencapai 2.000 tentara, dan umumnya pertempuran itu berakhir dengan perjanjian perdamaian.

Para pengeritik mengatakan perjanjian perdamaian itu pada gilirannya memberi kesempatan bagi para gerilyawan untuk mempersenjatai kembali.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009