Jakarta (ANTARA News) -Beberapa peneliti AS telah menemukan bahwa menonton TV memengaruhi prilaku anak kecil yang baru belajar jalan: makin sering mereka menonton televisi, makin agresif perilaku mereka.

Untuk studi tersebut, para peneliti di State University of New York mengumpulkan data dari rumah dan melalui telefon mengenai 3.128 anak yang dilahirkan antara 1998 dan 2000.

Anak-anak itu berasal dari 20 kota besar di AS, dan ibu mereka menyelesaikan jajak pendapat ketika anak anak tersebut dilahirkan, lalu mengisi lagi saat anak mereka berusia satu tahun dan tiga tahun.

Studi itu mendapati bahwa nonton TV secara langsung oleh anak kecil atau pajanan (exposure) untuk secara tak langsung menonton televisi di dalam rumah, keduanya berkaitan dengan sikap agresif pada anak yang masih sangat muda.

"Untuk setiap jam seorang anak menonton TV secara langsung, sifat agresif naik 0,16 pada skala nol sampai 30. Buat setiap TV yang dinyalakan di dalam rumah, kenaikannya adalah 0.09," kata pemimpin studi tersebut Jennifer A. Manganello, asisten profesor komunikasi kesehatan di University of Albany School of Public Health, State University, New York, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi China, Xinhua.

Para peneliti itu akhirnya menyimpulkan setelah memantau data mengenai berbagai faktor lain, seperti depresi yang dialami ibunya, tinggal di permukiman yang tidak aman dan dipukuli.

"TV lebih mungkin, dibandingkan dengan faktor lain, untuk meningkatkan prilaku agresif," kata Mangenello.

"Pesan yang diperoleh dari studi ini ialah orang-tua bukan hanya memikirkan mengenai berapa lama anak boleh nonton TV, tapi juga memikirkan lingkungan media tersebut secara keseluruhan di dalam rumah," kata Manganello.

Penelitian itu disiarkan di dalam Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, terbitan November.

"Pajanan terhadap kekerasan di media, termasuk televisi, film, musik dan permainan video, merupakan resiko penting bagi kesehatan anak dan remaja," kata American Academy of Pediatrics (AAP).

"Bukti penelitian luas menunjukkan bahwa kekerasan di media dapat memberi sumbangan bagi prilaku agresif, berkurangnya kepekaan terhadap kekerasan, mimpi buruk dan takut dicelakai," tulis Dewan Komunikasi dan Media AAP.(*)

Oleh
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2009