Yogyakarta (ANTARA News) - Para pemilik bangunan cagar budaya semestinya diminta oleh pihak-pihak yang berwenang untuk tidak menjual bangunannya, karena bangunan warisan budaya itu tidak ternilai harganya.

"Untuk itu, kepada mereka perlu diberi pemahaman bahwa bangunan cagar budaya seharusnya dipertahankan keberadaannya, dan tidak diperjual belikan," kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta Widi Utaminingsih di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, bangunan cagar budaya adalah warisan budaya nenek moyang yang tidak ternilai harganya. "Sehingga, apa pun alasannya jika bangunan tersebut sampai diperjual belikan sebagai barang dagangan, itu sangat disesalkan," katanya.

Ia mengatakan dalam beberapa tahun terakhir disinyalir banyak banguan cagar budaya milik masyarakat terutama di wilayah bekas kota kuno, Kotagede, Kota Yogyakarta, dijual oleh pemiliknya.

"Apalagi pascagempa di Yogyakarta 27 Mei 2006, banyak bangunan cagar budaya di Kotagede yang mengalami kerusakan, sehingga oleh pemiliknya kemudian dijual," katanya.

Bangunan kuno yang merupakan rumah adat berbentuk joglo di wilayah Kotagede banyak yang rusak akibat gempa, dan kemudian dibongkar untuk dijual.

Pertimbangan mereka untuk membangun kembali bangunan cagar budaya tersebut dibutuhkan biaya besar, dan karena pemiliknya tidak memiliki dana, maka bangunan itu kemudian dijual.

Selain itu, banyak pula bangunan cagar budaya yang tidak terawat karena pemiliknya tidak mampu membiayai, sehingga bangunan dibiarkan terbengkelai, bahkan sebagian dijual.

"Sebagian bangunan rumah berbentuk joglo di Kotagede oleh pihak pembeli kemudian dipindahkan ke luar wilayah, sehingga dikhawatirkan ciri khas Kotagede sebagai bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam akan punah," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, perlu ada sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada para pemilik bangunan tersebut untuk tidak menjual bangunannya.

Menurut dia, bangunan cagar budaya termasuk rumah berbentuk joglo yang ada di DIY selama ini menjadi objek wisata yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan khususnya wisatawan mancanegara.

"Apabila bangunan kuno yang memiliki nilai sejarah dan nilai artistik tinggi itu akhirnya terbengkelai dan rusak, bahkan kemudian dijual oleh pemiliknya, ini sangat disesalkan," kata Widi Utaminingsih yang yayasannya bergerak di bidang penelitian dan pengembangan wisata berwawasan budaya dan kebangsaan itu.

Ia juga menyoroti banyaknya bangunan cagar budaya di Yogyakarta yang sudah berubah fisik, karena oleh pemiliknya direnovasi untuk kepentingan bisnis atau fungsi lainnya.(*)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2009