Kemenperin konsisten cetak wirausaha muda sektor kriya dan fesyen

Kemenperin konsisten cetak wirausaha muda sektor kriya dan fesyen

Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih. ANTARA/HO-Kementerian Perindustrian

Pelaku industri kreatif bidang kriya dan fesyen akan diberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan bisnis
Jakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian konsisten mencetak wirausaha muda khususnya sektor industri kreatif kriya dan fesyen melalui program Creative Business Incubator.

Program ini dilaksanakan Ditjen IKMA melalui Bali Creative Industry Center (BCIC) dan bekerja sama dengan Business Venturing and Development Institute (BVDI) Prasetya Mulya.

"Melalui program ini, para pelaku industri kreatif bidang kriya dan fesyen akan diberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan bisnis (scalling-up) dengan bentuk kegiatan yaitu program kelas pada tahun pertama dan pendampingan pada tahun kedua," jelas Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih pada peluncuran program tersebut secara virtual, Rabu.

Baca juga: Cetak SDM industri animasi, Kemenperin kembali gelar diklat

Gati menyampaikan saat ini tantangan masa depan generasi muda semakin berat akibat perubahan lingkungan yang sangat cepat dengan adanya pandemi COVID-19.

Oleh karena itu, pihaknya melaksanakan program Creative Business Incubator untuk mencetak wirausaha muda di sektor industri kreatif kriya dan fesyen yang akan menjadi motor penggerak industri ini pada masa datang.

Gati menjelaskan salah satu sektor yang memiliki kontribusi terhadap industri nasional adalah industri kreatif.

Oleh karena itu, untuk mendorong peran industri terutama sektor kriya dan fesyen, Direktorat Jenderal IKMA mendirikan Bali Creative Industry Center (BCIC) pada 2015 yang berfungsi sebagai wadah bagi para pelaku industri kreatif kriya dan fesyen.

Tujunnya adalah untuk mengembangkan usaha dalam konteks meet-share-collaborate  dengan para pelaku bisa bertemu, berbagi pengalaman dan ide kreatif, sehingga pada akhirnya bisa berkolaborasi untuk menciptakan karya bersama.

"Industri kreatif merupakan industri yang dinamis, sehingga dalam pelaksanaannya kami menyasar generasi muda, dimana menurut data BPS tahun 2020, tercatat jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2019 sebanyak 268 juta jiwa dan sebanyak 137 juta jiwa adalah penduduk usia produktif," jelas Gati.

Menurut dia, jumlah ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia produktif berusia muda yang cukup besar.

"Hal ini merupakan modal untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya wirausaha baru dalam bidang ekonomi kreatif," terangnya.

Pada 2019, program CBI-BCIC ini memberikan hasil yang cukup baik, melalui pendampingan bagi 20 tenant inkubator BCIC tahun sebelumnya, berhasil menghasilkan empat tenant naik kelas dari skala kecil ke skala menengah dan lima tenant yang naik kelas dari skala mikro ke skala kecil serta lebih dari 50 persen tenant dapat menambah karyawan dalam rangka memperbesar kapasitas usahanya.

"Pada tahun ini kami juga akan memberikan pendampingan kepada 29 tenant inkubator sebagai lanjutan program camp inkubator tahun 2019 agar dapat naik kelas dan dapat menjadi wirausaha muda yang unggul," jelas Gati.

Baca juga: Kemenperin aplikasikan teknologi 4.0 para proses produksi AMDK
Baca juga: Kemenperin beri bantuan mesin dan peralatan IKM logam


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Luhut: impor garam industri harus direkomendasikan Kemenperin

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar