Kabul (ANTARA News/AFP) - Lebih dari 1.000 prajurit NATO, terutama dari AS, meluncurkan ofensif besar-besaran Jumat yang bertujuan menghalau gerilyawan dari medan tempur utama di Afghanistan selatan, kata militer.

Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO mengumumkan ofensif di Helmand itu hanya dua hari setelah Presiden AS Barack Obama memerintahkan pengiriman 30.000 prajurit tambahan ke Afghanistan dalam upaya mengakhiri perang.

Selain sebagai pusat produksi opium Afghanistan, Helmand adalah jantung pemberontakan pimpinan Taliban yang berusaha menggulingkan pemerintah Kabul dukungan Barat dan mengusir sekitar 113.000 prajurit NATO dan AS dari negara itu.

"Lebih dari 1.000 personel ISAF bersama-sama pasukan keamanan Afghanistan memulai operasi yang telah lama direncanakan di provinsi Helmand utara untuk menghalau gerilyawan dari sebuah daerah utama," kata militer.

Sekitar 900 marinir dan pelaut AS, prajurit Inggris, serta lebih dari 150 prajurit dan polisi Afghanistan mengambil bagian dalam Operasi Khareh Cobra, atau "Amarah Kobra" di lembah Now Zad.

Operasi itu diluncurkan ketika negara-negara NATO menjanjikan sedikitnya 7.000 prajurit lagi untuk mendukung upaya baru pimpinan AS dalam memerangi Taliban dan Al-Qaeda, setelah AS mendesak negara-negara mitranya membantu menyelesaikan perang di Afghanistan.

Delapan tahun setelah penggulingan Taliban dari kekuasaan di Afghanistan, lebih dari 40 negara bersiap-sikap menambah jumlah prajurit di Afghanistan hingga mencapai sekitar 150.000 orang dalam kurun waktu 18 bulan, dalam upaya baru memerangi gerilyawan.

Sebelumnya Jumat, Taliban menembakkan sedikitnya satu roket ke bandara terbesar Afghanistan barat, yang mengakibatkan penerbangan terganggu meski tidak ada korban, dalam sebuah tanda bahwa pemberontakan meluas ke daerah-daerah Afghanistan yang dulu tenang.

Tahun ini tidak saja mematikan bagi prajurit, polisi dan warga sipil Afghanistan namun juga bagi pasukan internasional yang memerangi Taliban.

Sekitar 500 prajurit asing tewas sejak Januari, yang menjadikan 2009 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.

Saat ini terdapat lebih dari 110.000 prajurit internasional, terutama dari AS, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Dalam salah satu serangan paling berani, gerilyawan tersebut menggunakan penyerang-penyerang bom bunuh diri untuk menjebol penjara Kandahar pada pertengahan Juni tahun lalu, membuat lebih dari 1.000 tahanan yang separuh diantaranya militan berhasil kabur.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.

Antara 8.000 dan 10.000 prajurit internasional bergabung dengan pasukan militer pimpinan NATO yang mencakup sekitar 60.000 personel di Afghanistan untuk mengamankan pemilihan presiden Afghanistan pada 20 Agustus, kata aliansi itu.

Pemilu yang menetapkan presiden dan dewan provinsi itu dipandang sebagai ujian bagi upaya internasional untuk membantu menciptakan demokrasi di Afghanistan, namun pemungutan suara tersebut dilakukan ketika kekerasan yang dipimpin Taliban mencapai tingkat tertinggi.

Sekitar 300.000 prajurit Afghanistan dan asing mengambil bagian dalam pengamanan pemilu tersebut.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009