Everett, Washington (ANTARA News/AFP) - Setelah lebih dari dua tahun mengalami keterlambatan, jet raksasa Boeing 787 Dreamliner, akhirnya mengudara untuk pertamakalinya, Selasa, yang merupakan tonggak penting bagi pesawat yang dianggap kunci bagi masa depan raksasa industri dirgantara AS.

Di bawah langit yang kusam, Dreamliner lepas landas pada Selasa 22.27 waktu setempat (Rabu 03.27 WIB) diiringi tepukan meriah dari mereka yang berkumpul di Paine Field, dekat pabrik Boeing di negara bagian Washington di barat AS, dan kembali hanya tiga jam kemudian di lapangan udara Boeing di Seattle.

Penerbangan pertama dari jet penumpang baru yang ramah lingkungan ini akhirnya dilakukan setelah lebih dari dua tahun mengalami masalah produksi yang membuat ditariknya kembali pengiriman pertamanya ke maskapai penerbangan Jepang All Nippon Airways sampai akhir 2010.

Boeing menggantungkan masa depanya kepada pesawat rakasa itu --model baru pertamanya dalam lebih satu dekade ini-- yang menggambarkan kemajuan luar biasa dari teknologi penerbangan dan mampu terbang jarak jauh dengan menghembat BBM hingga 20 persen.

Efisiensi bahan bakar sebagian besar ditopang oleh fakta bahwa lebih dari setengah tempat duduk ganda berukuran menengah dari Dreamliner 787 ini dibuat dari material campuran ringan, seperti damar berlapis fiber karbon, demikian perusahaan itu.

Sebagai perbandingan dengan model pendahulunya, Boeing 777, yang pertamakali terbang pada 1994, jenis lama ini mengandung 12 persen material campuran.

Dreamliner, yang dicat biru formal Boeing yang merupakan lambang status uji terbang dengan tulisan 787 di ekornya, lulus dari uji fungsi terakhirya pada Sabtu pekan lalu yang kemudian dibuktikan lewat penerbangan Rabu dini hari tadi dari Puget Sound ke negara bagian Washington.

Selama tiga jam delapan menit, kapten pilot Mike Carriker dan kopilot Randy Neville menguji sistem-sistem kunci seperti sistem kendali lingkungan, hidrolik, struktur dan mesin, serta stabilitasnya.

Wahana dalam pesawat akan merekam dan mentransmisikan data ke tim penguji, kata perusahaan itu.

Boeing sedang menunggu jadwal uji terbang pertama untuk Dreamliner 787 yang kedua pada 22 Desember, kata seorang pejabat senior Boeing yang meminta tak disebutkan namanya, kepada AFP.

Selama uji laik terbang terakhir Sabtu pekan lalu, pesawat raksasa ini mencapai maksimum kecepatan 130 knot (240 km per jam), dan para pilot berhasil menurunkan roda hidung pesawat di landasan, demikian Boeing.

"Para pilot kami mengatakan pada saya bahwa pesawat itu bekerja baik sekali," kata Mike Delaney, wakil presiden dan kepala insinyur proyek 787.

Boeing yang berbasis di Chicago dan berlomba dengan pesaingnya dari Eropa untuk merebut supremasi komersial, menggadai-gadaikan Dreamliner yang hemat bakal memenangi visi masa depan penerbangan komersial global.

Iming-iming ongkos bahan bakar yang lebih rendah dalam sektor di mana selisih keuntungan diiris tipis, telah mengundang nafsu sejumlah pemain kunci industri penerbangan.

"Penerbangan perdana Boeing 787 Dreamliner hari ini adalah pengubah permainan. Ini menandakan tingkat keunggulan teknologi, dengan menggabungkan efisiensi bahan bakar jet terbaik di dunia dengan emisi yang lebih rendah, kenikmatan pengalaman terbang yang lebih nyaman dan lingkugan terbang yang lebih senyap bagi komunitas bandara," kata senator AS dari negara bagian Washington, Maria Cantwell.

Namun model produksi internasional baru yang menggantungkan diri pada pabrik-pabrik Asia dan Eropa yang mensuplai komponen-komponen kunci, merugi gara-gara penangguhan.

Boeing meluncurkan program pada April 2004 dan semua telah berencana mengirimkan pesawat pertama ke ANA pada paruh pertama tahun 2008, yang kini diubah dikirim akhir 2010.

Dreamliner menghadapi persaingan seru dalam pasar penerbangan komersial dari Airbus, salah satu unit dari Kongsi Pertahanan Aeronotika dan Luar Angkasa Eropa (European Aeronautic Defence and Space Company).

Airbus tengah membuat A350 berjelajah terbang tinggi untuk menyaingi Dreamliner dan diperkirakan terbang pertamakali pada pertengahan 2013.

Boeing mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki 840 permintaan dari 55 pelanggan untuk mendapatkan pesawat hemat BBM yang diklaim sebagai jet paling cepat terjual dalam sejarah penerbangan itu.

United Airlines, pekan lalu, mengumumkan akan membeli 25 Dreamliner, disamping 25 A350, dengan opsi membeli 50 unit lainnya untuk kedua jenis pesawat.

Namun penangguhan program 787 telah menciptakan rugi 1,6 miliar dolar AS pada kuartal ketiga tahun ini dan Boeing telah memangkas prediksi labanya tahun ini hingga lebih dari sepertiganya.

Maskapai penerbangan yang membatalkan pesanan Dreamliner 787 diantaranya adalah maskapai Rusia S7, perusahaan lisensi penerbangan yang berbasis di Dubai LCAL, dan maskapai Australia Qantas. (*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2009