Serang (ANTARA News) - Berinvestasi atau menabung dengan menggunakan mata uang dinar dan dirham semakin diminati masyarakat, karena dinilai relatif lebih aman dari inflasi, apalagi pascakrisis keuangan dunia yang melanda berbagai negara.

Pemerhati ekonomi syariah Abdurrahman Sony Sugema di Serang, Kamis mengatakan, indikator semakin diminatinya berinvestasi atau menabung menggunakan mata uang dinar atau dirham ditandai dengan bertambahnya orang yang menabung di Koperasi Dinarku yang dikelolanya yang saat ini rata-rata sekitar setara Rp500 juta per tiga bulan dengan nilai satu dinar saat ini sekitar Rp1.493.000.

"Saya melihat saat ini masyarakat semakin tertarik dengan dinar dan dirham karena ini menjadi solusi untuk menyelamatkan ekonomi umat Islam khusunya dari inflasi" kata Sony Sugema yang juga Direktur Koperasi Dinarku dalam Seminar Nasional "Ekonomi Syariah Solusi Krisis Ekonomi Global" di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang.

Menurut Sony, dengan runtuhnya perekonomian dunia 2008 lalu yang sampai saat ini masih berdampak terhadap sektor ekonomi di berbagai negara, termasuk krisis keuangan di Dubai beberapa hari terakhir ini menunjukkan betapa lemahnya sistem ekonomi dunia saat ini yang menggunakan mata uang kertas sebagai alat tukar.

Selain itu, katanya, uang kertas nilainya tidak stabil karena tergerus inflasi dari waktu ke waktu.

Sementara itu pembicara lainnya pakar dan praktisi dinar dirham Muhaimin Iqbal mengatakan, dalam teori ekonomi, uang memiliki tiga fungsi ekonomi yakni sebagai alat tukar (medium of exchange), sebagai penyimpan nilai (store of value) dan sebagai satuan perhitungan/timbangan (unit of account).

Menurut Muhaimin Iqbal, ketiga fungsi tersebut seharusnya melekat pada uang yang digunakan, namun penggunaan uang kertas justru tidak dapat memenuhi tiga fungsi tersebut sekaligus.

Ia mengatakan, uang kertas hanya berfungsi secara oftimal sebagai alat tukar, sedangkan sebagai penyimpan nilai, uang kertas nilainya tergerus inflasi sehingga uang kertas juga tidak konsisiten dipakai sebagai satuan perhitungan atau timbangan.

"Uang emas atau dinar dan perak atau dirham yang sebenarnya sepanjang sejarah ribuan tahun bisa memerankan tiga fungsi uang tersebut secara sempurna," kata Muhaimin Iqbal yang juga pemilik dan pengelola jaringan gerai dinar/dirham tersebut.

Seminar Nasional Ekonomi Syariah Solusi Krisis Ekonomi Global yang diselenggarakan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang tersebut, diikuti ratusan peserta dari praktisi ekonomi, birokrat, akademisi dan warga masyarakat Banten lainnya.

Selain menghadirkan dua pembicara dari praktisi dinar dirham, juga pembicara lainnya Prof Zaenal Ali (Untirta) dan KH Yaaksyallah Mansur (STAI AL-Fattah Bogor).(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009