Emas jatuh setelah risalah Fed angkat dolar dan imbal hasil obligasi

Emas jatuh setelah risalah Fed angkat dolar dan imbal hasil obligasi

Ilustrasi - Emas batangan di gerai logam mulia London, Inggris. ANTARA/REUTERS/Neil Hall/pri.

Mereka tidak memberikan indikasi apa pun bahwa mereka akan menciptakan jumlah likuiditas yang diharapkan investor emas untuk mendapatkan harga di atas 2.000 dolar AS
Chicago (ANTARA) - Emas jatuh di bawah level psikologis 2.000 dolar AS per ounce pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena dolar melonjak dan imbal hasil obligasi AS naik setelah risalah pertemuan Federal Reserve AS pada Juli menunjukkan para pembuat kebijakan menyatakan sedikit dukungan untuk membatasi imbal hasil obligasi. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, anjlok 42,8 dolar AS atau 2,13 persen menjadi ditutup pada 1.970,30 dolar AS per ounce.

Sehari sebelumnya (18/8), emas berjangka naik 14,4 dolar AS atau 0,72 persen menjadi 2.013,10 dolar AS per ounce, setelah melonjak 48,9 dolar AS atau 2,51 persen menjadi 1.998,70 dolar AS pada Senin (17/8).

"Salah satu kekhawatiran adalah bahwa Fed mungkin akan mengadopsi kontrol kurva imbal hasil, yang akan menjadi katalis kuat untuk berlanjutnya pelemahan dolar, tetapi mereka mengatakan mereka tidak mempertimbangkannya sekarang," kata Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA.

“Itu akan menjadi hasil yang paling dovish dari risalah (The Fed), tapi kami tidak mendapatkannya,” tambah Moya.

Membatasi imbal hasil obligasi dapat mengurangi daya tarik surat utang Departemen Keuangan AS dan menekan mata uang AS, meningkatkan daya pikat logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Imbal hasil obligasi AS naik dan dolar melonjak 0,8 persen setelah risalah pertemuan Fed dirilis, mengakhiri penurunan lima sesi ke level terendah dua tahun.

The Fed menegaskan kembali penurunan ekonomi yang dipicu oleh pandemi virus corona menghadapi jalur yang sangat tidak pasti dan stimulus fiskal tambahan diperlukan untuk mendukung perekonomian.

“Harapan bahwa Fed akan melakukan sesuatu yang lebih, telah menjadi katalis untuk penjualan pada saat ini,” kata Jeffrey Sica, pendiri dari Circle Squared Alternative Investments.

"Mereka tidak memberikan indikasi apa pun bahwa mereka akan menciptakan jumlah likuiditas yang diharapkan investor emas untuk mendapatkan harga di atas 2.000 dolar AS," tambah Sica.

Langkah-langkah stimulus yang meluas dan lingkungan suku bunga rendah mendorong harga emas ke puncak sepanjang masa pada 7 Agustus, tetapi emas telah mengurangi kenaikannya sejak itu.

Emas juga tertekan pada Rabu (19/8) ketika seorang pejabat senior pemerintah Trump mengatakan rancangan undang-undang bantuan virus corona yang lebih kecil senilai sekitar 500 miliar dolar AS dapat dicapai, dibandingkan dengan antara satu triliun dan tiga triliun dolar AS yang sebelumnya diharapkan.

Namun prospek keseluruhan untuk emas tetap bullish karena investor mengkhawatirkan langkah-langkah inflasi yang diambil oleh bank sentral dan pemerintah di seluruh dunia sebagai reaksi terhadap dampak ekonomi dari wabah COVID-19. Kekhawatiran tambahan tetap mengenai potensi gelombang kedua pandemi yang dimulai pada musim gugur.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 73,5 sen atau 2,62 persen menjadi ditutup pada 27,34 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun 19,1 dolar AS atau 1,96 persen menjadi menetap pada 956,3 dolar AS per ounce.

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

 Keuntungan berinvestasi emas bagi warga di tengah COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar