Minimalkan risiko, perbankan Sumsel lebih hati-hati salurkan kredit

Minimalkan risiko,  perbankan Sumsel lebih hati-hati salurkan kredit

Kepala BI Provinsi Sumatera Selatan Hari Widodo. (ANTARA/Dolly Rosana/20)

Ini sesuatu yang wajar terjadi, tapi perbankan tentunya harus memiliki strategi agar tetap ada kinerja dalam penyaluran kredit di tengah pandemi.
Palembang (ANTARA) - Perbankan di Sumatera Selatan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit usaha untuk meminimalisasi risiko pelemahan ekonomi yang dialami para pelaku bisnis di tengah pandemi COVID-19.

Kepala Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Hari Widodo dalam webinar “Bagaimana Strategi Perbankan Menghadapi Adaptasi Kebiasaan Baru” di Palembang, Rabu, mengatakan perbankan lebih berhati-hati (prudent) tak lain agar kredit yang diberikan lebih berkualitas demi terjaganya likuiditas perusahaan.

“Ini sesuatu yang wajar terjadi, tapi perbankan tentunya harus memiliki strategi agar tetap ada kinerja dalam penyaluran kredit di tengah pandemi,” kata Hari.

Baca juga: Bank Sumsel Babel dorong transaksi digital mulai implementasikan QRIS

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan Regional VII Sumatera Bagian Selatan, pertumbuhan kinerja aset dan Dana Pihak Ketiga perbankan di daerah tersebut mengalami penurunan, namun secara nominal justru meningkat pada triwulan II/2020 jika dibandingkan triwulan sebelumnya.

Aset perbankan di Sumsel hingga Juni 2020 Rp100,449 triliun atau meningkat 2,24 persen (YoY) atau 0,45 persen (Ytd), realisasi kredit Rp84,873 triliun atau meningkat 5,56 persen (YoY) atau 0,01 (Ytd), DPK Rp89,829 triliun atau meningkat 5,56 persen (YoY) atau 3,67 persen (Ytd).

 NPL memburuk dengan mengalami kenaikan 4,7 persen dengan ambang batas 5,0 persen atau meningkat 1,18 persen (YoY) atau 1,70 persen (Ytd), sedangkan LDR sebesar 94,48 persen atau turun 4,99 persen (YoY) atau 3,45 persen (Ytd).

Baca juga: LPS minta waspadai NPL yang naik pada masa pandemi

Menurut Hari, penurunan pertumbuhan ini didorong oleh penurunan aset DPK dari korporasi/non perseorangan yang menggunakan dana internalnya untuk operasional usaha pada saat pandemi.

Sementara itu, meskipun pendapatan menurun, masyarakat cenderung untuk menunda konsumsinya sehingga meningkatkan DPK dari sisi perseorangan.

“Mengatasi keadaan ini perbankan harus memiliki strategi yakni mulai melihat sektor ekonomi yang bisa jadi prioritas dan potensial dengan tetap mempertimbangkan risiko pandeminya,” kata dia.

Baca juga: OJK sebut perbankan lakukan restrukturisasi senilai Rp837,64 triliun

Sejauh ini BI sudah memetakan sektor bisnis tersebut, di antaranya, sektor transportasi melalui penggunaan uang elektronik mengingat Sumatera Selatan memiliki LRT, sektor pariwisata melalui bisnis online tiket dan sektor perdagangan ritel melalui penggunaan layanan transaksi digital.

Selain itu, BI juga mendorong kalangan perbankan untuk menggarap sektor UMKM dan keuangan syariah.

“Tinggal lagi bagaimana mendorong UMKM untuk mengakses layanan perbankan digital di tengah pandemi ini,” kata dia.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Regional VII Sumatera Selatan Untung Nugroho mengatakan saat ini otoritas sudah merespon kondisi terkini yang terjadi di bisnis perbankan.

“Dalam penyaluran kredit, saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Dari biasanya dua item yang menjadi pertimbangan perbankan yakni kemampuan membayar dan kinerja usaha, kini cukup kemampuan membayar saja sudah bisa dijadikan dasar untuk menyalurkan kredit,” kata dia.

 

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bank Indonesia Wujudkan Pesantren Mandiri Atasi Inflasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar