Jakarta (ANTARA News) - Langit Jakarta masih diselimuti awan kelabu yang menandakan hujan akan segera turun, ketika satu pesan singkat masuk ke dalam telefon selular yang menyatakan seorang pemimpin perusahaan besar, PT Astra Internasional Tbk (AI), Michael D Ruslim meninggal, pada Rabu (20/1) pukul 06.08 WIB.

Baru kemarin, Kepala Divisi Perencana Pemasaran dan Hubungan Konsumen PT Toyota Astra Motor (TAM) Widyawati yang ditemui di sela-sela pertemuan ramah tamah awal tahun dengan media mengabarkan bahwa presiden direktur AI itu dirawat salah satu rumah sakit terkenal di Singapura.

Dalam obrolan pendek itu, secara tersirat ia menyatakan kondisi pemimpin AI itu agak mengkhawatirkan, karena Presdir TAM Jhonny Darmawan yang juga menjadi salah satu direktur AI berangkat ke negeri jiran itu untuk menjenguk pimpinannya.

"Pak Johnny ke Singapura karena Pak Michael (Presdir AI) dirawat di sana sejak Senin pagi, karena demam berdarah awalnya," ujar Widya.

Namun, diperkirakan penyakit pemimpin AI itu tidak sekedar demam berdarah, sehingga pada pukul 07.08 waktu Singapura, lelaki kelahiran Bandung (Jawa Barat) yang baru berusia 56 tahun pada 29 November 2008 lalu itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura.

Michael memulai kariernya sekitar 30 tahun lalu di perusahaan yang sebelumnya dimiliki keluarga William Suryajaya itu, sebagai GM Divisi Finance setelah sebelumnya sejak 1978 sampai 1983 berkarier di Citibank Jakarta.

Sejak itu berbagai jabatan disandang pemegang gelar MBA bidang keuangan dan riset operasi dari Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat itu, tidak hanya dibidang keuangan, tapi juga ia pernah tercatat sebagai direktur AI yang bertanggung jawab untuk bidang infrastruktur (1991-2008), otomotif yaitu di Toyota Astra Group dan United Tractor Group (2002-Mei 2005), serta pertanian di Astra Agro Group (2004- Mei 2005).

Mulai 2002, pemegang diploma bidang "Industrial Engineering" dari Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat itu juga menjadi wakil presdir AI bidang perencanaan dan strategi, serta sumber daya manusia (SDM), legal, lingkungan, dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kariernya yang cemerlang, membawa suami dari Trisni Puspitaningtyas itu terpilih menjadi Presdir AI menggantikan Budi Setiadarma pada Mei 2005.

Koleganya dalam jajaran direksi AI, Jhonny Darmawan, menyatakan sangat kehilangan atas meninggalnya Michael D Ruslim, yang tidak saja sekedar pimpinannya dalam memimpin Astra, tapi juga sahabat yang rendah hati dalam kehidupan personal, karena sering berbagi dengan rekan dan bawahannya.

"Saya merasakan duka yang sangat dalam, hampir seperti saat kepergian ibu saya untuk selamanya pada tahun lalu. Bagi saya, beliau tidak hanya sekedar rekan kerja maupun atasan, namun juga panutan sekaligus sahabat dalam kehidupan personal," ujarnya.

Ketika dihubungi ANTARA, Rabu pagi (20/1), untuk dikonfirmasi mengenai meninggalnya pimpinan Grup Astra itu, Johnny yang biasanya bicara lancar hanya mampu membenarkan tentang meninggalnya sahabatnya itu. Baru pada sore hari, melalui wawancara panjang, ia menyatakan duka yang dalam dan empatinya pada keluarga yang ditinggalkan.

"Saya bersyukur berkesempatan mengenal dan bekerja sama dengan Pak Michael yang selalu bersemangat, penuh dedikasi, dan mengerjakan segala hal hingga tuntas," katanya.

Menurut pemimpin TAM itu, Michael memiliki perhatian besar pada pengembangan SDM dan kemajuan bangsa Indonesia. Hal itu, kata dia, terlihat dari perhatian besarnya pada masalah kaderisasi di jajaran Grup Astra, merangkul rekan sejawat sekaligus me-"manage` bawahan, dan bahkan menempatkan bagian SDM PT Astra International Tbk langsung di bawah kepemimpinannya.

"Rasa nasionalisme beliau juga sangat tinggi yang tercermin dalam setiap sikap dan keputusan. Beliau selalu menekankan rasa cinta Indonesia dan keinginan membangun Indonesia dalam setiap kesempatan," kata Jhonny.

Pengalaman yang terkesan selama bekerja sama dengan Michael, kata Jhonny, ketika dia dan Michael terlibat dalam diskusi dan proses pemisahan TAM dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang kini sahamnya dikuasai Toyota Motor Corp. Kala itu, lanjut dia, AI harus mengambil keputusan besar terkait dengan investasi, SDM, termasuk manfaat dan pengaruhnya bagi negara Indonesia dalam pemisahan perusahaan manufaktur dengan distributor itu.

"Saya bersyukur, berkat dukungan dan kerja sama dari Pak Michael, kami dapat mengambil keputusan yang baik bagi semua pihak," katanya. Saat ini TAM menjadi pemimpin pasar penjualan mobil di Indonesia dengan penguasaan pasar sebesar 39 persen pada 2009 dan Toyota menjadikan Indonesia sebagai basis produksi mobil yang penting di kawasan Asia Tenggara, khususnya untuk mobil serbaguna (MPV).

Selama hampir lima tahun memimpin Grup Astra, Michael berhasil membawa perusahaan tersebut bertahan sebagai perusahaan dengan kinerja yang baik sehingga saham AI di Bursa Efek Indonesia menjadi saham unggulan.

Kepala Komunikasi Perusahaan AI Arief Istanto dalam keterangan persnya menyatakan Michael dikenal oleh kalangan karyawan Astra sebagai pemimpin yang rendah hati dan dekat dengan karyawan karena selalu berbagi nilai dan pengalaman tentang kehidupan dan pekerjaan untuk meningkatkan produktivitas kerja.

"Segenap komisaris, direksi dan karyawan perseroan serta Grup Astra menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin..," ungkapnya.

Duka yang dalam dan kehilangan terhadap pemimpin besar Grup Astra itu juga terlihat dari batalnya pertemuan ramah tamah awal tahun PT Astra Honda Motor (AHM) yang rencananya dihadiri kalangan petinggi perusahaan manufaktur dan pemasaran sepeda motor Honda, Rabu siang.

Michael D Ruslim tidak hanya meninggalkan istri, Trisni Puspitaningtyas, dan dua anak yaitu Gisela Deamanda Prasadhistika dan Mayongga Gilang Pragiwaksana, namun juga meninggalkan duka yang dalam di hati kolega, teman, dan karyawan Grup Astra, karena kehilangan pemimpin yang rendah hati sebelum tiba masa pergantian pemimpin baru di perusahaan nasional terkemuka itu.

Sebagai seorang Muslim, jenazah Michael yang tiba di Jakarta melalui Bandara Halim Perdana Kusuma pada pukul 15.30 WIB dan dibawa ke kediamannya di Jalan Taman Patra IX No. 9, Kuningan Timur, Jakarta Selatan dan setelah shalat Subuh pada 21 Januari 2010 pemimpin Grup Astra itu akan dibawa ke peristirahatan terakhir di taman pemakaman San Diego Hills, Karawang.

Selamat jalan Pak Michael, kerendahan hatimu sebagai pemimpin akan menjadi tauladan.(*)

Oleh Risbiani Fardaniah
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010