Solo (ANTARA News) - Wartawan berbagai media massa yang tergabung dalam Forum Wartawan Surakarta, Sabtu, mendatangi Poltabes setempat terkait insiden Jumat kemarin (22/1) ketika suporter Persebaya Surabaya mengamuk di kota itu.

Puluhan wartawan dengan koordinator Ahmad Farid itu mendatangi Mapoltabes Surakarta di Solo dan diterima oleh Kapoltabes Pol Joko Irwanto.

Ribuan bonek menumpang Kereta Api Pasundan jurusan Surabaya-Bandung pada Jumat (22/1) untuk memberikan dukungan saat Persebaya bertanding melawan Persib di Bandung yang digelar hari ini.

Mereka mengamuk dengan melemparkan batu terhadap warga, petugas, dan bangunan di tepi kanan dan kiri jalur kereta, serta beberapa stasiun kereta seperti di Solo dan Yogyakarta.

Farid mengatakan, wartawan setempat mengutuk anarkisme suporter Persebaya karena mereka merusak berbagai aset perseorangan maupun fasilitas publik di wilayah Surakarta.

Pihaknya juga mengutuk serangan bonek terhadap sejumlah wartawan setempat ketika meliput perjalanan mereka melewati Solo.

Serangan bonek itu antara lain mengakibatkan seorang wartawan foto LKBN ANTARA, Hasan Sakri Gozali, terluka dan harus dirawat di rumah sakit setempat. Sejumlah warga dan petugas kepolisian setempat juga luka akibat amukan bonek.

Wartawan Surakarta, katanya, mengetuk kesadaran seluruh pekerja pers di Indonesia, khususnya di Kota Surabaya, terkait pelanggaran suporter Persebaya terhadap Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Pihaknya mendesak pihak Manajemen Persebaya dan pimpinan Yayasan Suporter Persebaya untuk meminta maaf secara terbuka dan bertanggung jawab atas amukan bonek.

"Kami menyayangkan dan mempertanyakan kekurangsigapan aparat keamanan dan keputusan PT KA selaku penyedia jasa angkutan masal tetap memberangkatkan KA dalam kondisi kelebihan penumpang. Kami menyaksikan banyak penumpang duduk di atas gerbong sembari melakukan aksi kekerasan di sepanjang perjalanan," katanya.

Ia mengatakan, pihak terkait harus memulangkan bonek dari Bandung ke Surabaya tanpa melewati Surakarta guna mencegah konflik antarmassa yang lebih besar.

Selain itu, katanya, PSSI harus mengevaluasi kompetisi sepak bola antarklub selama ini karena lebih banyak membuahkan kerawanan, keresahan sosial, dan berbagai tindak kriminal dibandingkan dengan prestasi di lapangan.

Jajaran kepolisian, katanya, harus mengusut hingga tuntas serangkaian tindakan melawan hukum yang dilakukan suporter Persebaya itu.

Joko menyatakan, mendukung tuntutan wartawan setempat terkait amukan bonek.

Pada kesempatan itu ia juga menyatakan prihatin terhadap para korban luka karena anarkisme bonek, termasuk Hasan dan seorang anggota Brimob Polwil Surakarta yang hingga kini masih dirawat di rumah sakit.

Ia mengaku, sudah melakukan koordinasi dengan pihak PT KA untuk pengaturan pemulangan bonek supaya tidak melewati jalur selatan termasuk Surakarta itu tetapi dialihkan ke utara.

Pihaknya khawatir, saat bonek melewati jalur selatan dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Surabaya, akan mendapatkan pembalasan dari warga setempat.

Namun, katanya, jika bonek tetap melewati wilayah Solo, kepolisian setempat akan melakukan pengamanan secara ketat.

Sebanyak empat petugas akan ditempatkan di setiap gerbong sedangkan suporter tidak boleh di luar gerbong.

Ia mengimbau, pihak PT KA melarang penumpang kereta di atas gerbong supaya tidak terjadi kecelakaan.

Bonek, katanya, juga tidak boleh memancing tindakan tertentu yang melanggar hukum terutama sepanjang perjalanan pulang.

Setelah audiensi itu, wartawan setempat melanjutkan dengan aksi damai di depan pintu masuk Stadion Manahan Solo untuk menyerukan kecaman mereka atas anarkisme bonek.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010