Seoul (ANTARA News/AFP) - Menteri Luar Negeri Jepang Katsuya Okada, Kamis, mengeluarkan pernyataan permintaan maaf mendalam atas penjajahan "tragis" yang dilakukan negaranya pada Korea di abad 20, seraya mengatakan bahwa pemerintahnya tidak akan mengabaikan sejarah.

"Saya kira ini adalah insiden yang tragis bagi warga Korea ketika mereka kehilangan negara dan identitas mereka," kata dia dalam sebuah konferensi pers setelah perundingan dengan timpalannya dari Korea Selatan, Yu Myung-Hwan.

"Saya dapat memahami penuh perasaan warga Korea dan saya percaya kami harus tidak pernah melupakan para korban," kata Okada.

Kedua negara, dia mengatakan, harus membuat "titik balik" yang berarti dalam hubungannya tahun ini, peringatan ke-100 pendudukan Jepang yang berakhir dengan kekalahannya dalam perang pada 1945.

Okada mengatakan bahwa pemerintahnya "akan melihat ke masa depan tanpa meninggalkan sejarah masa lalu dan membangun hubungan persahabatan yang berorientasi masa depan antara Jepang dan Korea Selatan."

Pejabat Korea Selatan juga mengatakan bahwa kunjungan Okada akan menandai mulainya upaya kedua negara untuk menempaikan masa lalu di belakang.

Yu mengatakan bahwa meraka akan membangun hubungan persahabatan yang melihat ke depan dan melakukan sejumlah upaya untuk menghapus ketegangan di masa lalu.

Mereka akan mendorong pertemuan puncak rutin antara Presiden Lee Myung-Bak dan Perdana Jepang Yukio Hatoyama.

Jepang sering kali dikritik oleh negara-negara tetangganya akibat sikapnya selama perang dunia II.

Hatoyama sedang mencari upaya untuk menghapus ketegangan dengan berjanji untuk tidak mengunjungi kuil di Tokyo yang menjadi pusat ketegangan di masa lalu.

Sejumlah warga negara Korea yang berusia lanjut memiliki kenangan buruk hidup di masa penjajahan, di mana Jepang berusaha menghapus kebudayaan Korea, bahkan pada suatu ketika memaksa rakyat mengubah namanya.

Hubungan antara kedua negara juga mengalami masalah akibat klaim Jepang atas sebuah pulau kecil yang dikendalikan Seoul, yang disebut sebagai Dokdo di Korea dan Takeshima di Jepang. (G003/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010