Dubes Israel tinggalkan Sidang Umum PBB karena kritik keras Erdogan

Dubes Israel tinggalkan Sidang Umum PBB karena kritik keras Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. ANTARA/REUTERS/HO-Presidential Press Office/aa. (Presidential Press Office/Handou/PRESIDENTIAL PRES)

Mencari solusi selain ini adalah sia-sia, sepihak dan tidak adil
New York (ANTARA) - Wakil Tetap Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Gilad Erdan yang berpartisipasi dalam pertemuan tatap muka Sidang Majelis Umum PBB ke-75, berjalan ke luar dari aula selama pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang berisi kritik keras terhadap Israel.

Dubes Erdan pergi saat Erdogan mengecam kebijakan "penindasan, kekerasan, dan intimidasi" Israel terhadap Palestina dalam pidato yang telah direkam sebelumnya.

"Tangan kotor itu yang menjangkau privasi Yerusalem, di mana tempat-tempat suci tiga agama besar hidup berdampingan, terus meningkatkan kekurangajarannya. Rakyat Palestina telah menentang kebijakan penindasan, kekerasan, dan intimidasi Israel selama lebih dari setengah abad," kata Erdogan, Selasa.

Baca juga: Erdogan: Turki "tidak mungkin" pertimbangkan rencana AS atas Palestina
Baca juga: Penyelesaian dua-negara satu-satunya penyelesaian di Timur Tengah


Lebih jauh Erdogan mengatakan bahwa atas penolakan dokumen penyerahan, yang coba diberlakukan di Palestina dengan nama Kesepakatan Abad Ini, Israel kali ini mempercepat upayanya untuk "memiliki jalur dalam" dengan bantuan kolaboratornya---mengacu pada rencana jalur belakang AS untuk mencapai penyelesaian damai antara Palestina dan Israel yang bertujuan untuk mendirikan negara Palestina di Gaza saja.

Ia menegaskan bahwa Turki tidak akan mendukung "rencana apa pun yang tidak disetujui oleh rakyat Palestina."

"Partisipasi beberapa negara di kawasan dalam permainan ini tidak berarti apa-apa selain melayani upaya Israel untuk mengikis parameter dasar internasional. Negara-negara itu telah menyatakan niat mereka untuk membuka kedutaan besar di Yerusalem, yang melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional, hanya membuat konflik semakin rumit dengan tindakan mereka," tutur Erdogan.

Dia menekankan bahwa konflik hanya dapat diselesaikan dengan pembentukan negara Palestina yang "merdeka, berdaulat, dan bersebelahan" berdasarkan perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

"Mencari solusi selain ini adalah sia-sia, sepihak dan tidak adil," kata Erdogan.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Turki 'sangat prihatin' Serbia pindahkan kedutaan ke Yerusalem
Baca juga: Turki: Pembongkaran rumah bertujuan ubah susunan demografik Jerusalem

Penerjemah: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar