Inovasi jadi strategi agar batik bertahan saat pandemi dan naik kelas

Inovasi jadi strategi agar batik bertahan saat pandemi dan naik kelas

Inspirasi paduan kain batik dan busana formal dari Maquinn Couture (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

Untuk penggemar hal simple, corak batik hanya di satu bagian misalnya pinggang dikombinasikan dengan kain polos. Batik bisa juga dibuat simple
Jakarta (ANTARA) - Creative Director label fesyen Maquinn Couture, Janice Setyawan dan Benita Setyawan, menjadikan inovasi sebagai salah satu strategi agar produksi batik terus bertahan di tengah pandemi COVID-19.

"Selama pandemi, tidak ada pesta, produksi batik. Kami melihat ini sebagai kesempatan berinovasi makanya kami hadirkan produk lain seperti t-shirt, jaket," kata Benita dalam konferensi pers virtual, Sabtu.

Strategi ini menurut dia sekaligus membuat dapur para perajin batik tetap bisa mengebul sekaligus menantang mereka agar terus berkreasi sama seperti dia dan saudarinya, Janice yang hari ini berpartisipasi dalam gelaran Milan Fashion Week 20/21 di Milan.

Melalui koleksi t-shirt, Janita dan Benita yang belakangan ini fokus pada batik khususnya Pekalongan dan Cirebon, membuat salah satu kain wastra itu berbaur dengan fesyen formal maupun informal dan cocok untuk berbagai kalangan usia sesuai gaya mereka masing-masing.
 
T-shirt batik dari Maquinn Couture (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)


Batik tak melulu memenuhi seluruh bagian t-shirt, tetapi bisa hanya dihadirkan pada salah satu sisi saja, semisal di bagian dada atau pundak.

Kemudian, t-shirt ini sendiri juga bisa dipadankan dengan jas atau outer berupa blazer dan sabuk untuk memunculkan kesan fashionable dan semi formal.

"T-shirt batik untuk non-formal. Kami lihat anak muda ketertarikan pada batik kurang untuk pakaian sehari-hari. Anak muda suka yang sederhana. Selain itu, t-shirt bisa untuk acara rapat atau ke kantor, dengan memadukan t-shirt dengan jas atau outer blazer atau sabuk agar tetap terlihat fashionable," tutur Benita.

Tak hanya itu, Benita juga menghadirkan unsur batik bercorak segar pada produk sweater, kemeja, dan bomber jacket.
 
Kemeja batik dari Maquinn Couture (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)
Bomber jacket batik dari Maquinn Couture (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)


"Untuk penggemar hal simple, corak batik hanya di satu bagian misalnya pinggang dikombinasikan dengan kain polos. Batik bisa juga dibuat simple," kata dia.

Ide lainnya, memadukan kain batik yang belum dijahit menjadi busana tertentu dengan pakaian lain semisal kemeja dan dipadukan belt berwarna gold untuk memunculkan kesan modis.

Di sisi lain, inovasi jugalah yang bisa membantu batik naik kelas dan dikenal masyarakat global. Inovasi ini diwujudkan dalam rancangan orisinal dan diperkenalkan melalui gelaran fashion show bertaraf internasional. Misi ini salah satunya dilekatkan pada Maquinn Couture saat berpartisipasi dalam Milan Fashion Week 2020/2021.

Melalui koleksinya kali ini, Janice dan Benita memadukan batik dan unsur Eropa namun tak menghilangkan jati diri kedua budaya itu. Mereka juga ingin menunjukkan batik mampu berbaur dengan berbagai budaya modern tanpa kehilangan kepribadiannya.

"Kami ingin membawa batik selangkah lebih maju, agar bisa berbaur dengan budaya modern tidak hanya di Indonesia tetapi di negara lain. Kami ingin menunjukkan batik itu bisa fleksibel. Ini motivasi kami terus berkarya," demikian kata Benita.
 
Inspirasi paduan kain batik dan busana formal dari Maquinn Couture (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)


Baca juga: Paduan batik dan unsur Eropa Maquinn Couture di Milan Fashion Week

Baca juga: Batik tampil dalam pameran fesyen New York di tengah pandemi

Baca juga: KBRI Roma dorong desainer Indonesia kenalkan kain wastra di Italia

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menangkap peluang penjualan batik di tengah pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar