Artikel

Berbagi berkah saat pandemi melalui nasi Padang Rp5.000

Oleh Ikhwan Wahyudi/Iggoy El Fitra

Berbagi berkah saat pandemi melalui nasi Padang Rp5.000

Konsumen mengambil lauk-pauknya sendiri untuk makan di Warung Makan Al Ananda, Ulakkarang, Padang, Sumatera Barat, Jumat (25/9/2020). Warung makan milik Lena Muhammad Nasir itu menjual Nasi Padang Rp5000 per bungkus dan membagikan nasi gratis untuk kaum dhuafa setiap Jumat, untuk membantu warga yang kesulitan selama masa pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/20

Awal pandemi, kantor perusahaan tutup, toko tutup, mau dipulangkan karyawan tidak mungkin, saya kasihan. Lalu, saya berpikir bagaimana menyelamatkan mereka
Padang (ANTARA) - Menjelang waktu makan siang tiba, warung nasi Padang yang berada di depan Kantor Lurah Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat itu, mulai ramai didatangi pembeli.

Warung itu berada di teras rumah, dengan satu meja dan dua kursi panjang. Etalase makanan berada di sebuah gerobak kecil menjorok ke tepi jalan, ukurannya sekitar 150 centimeter x 50 centimeter.

Di gerobak itulah, berbagai jenis lauk-pauk ala masakan Padang digelar. Di antaranya ada sambalado, gulai tauco, ikan lado hijau, telur dadar, pepes ikan teri, tempe tahu goreng, dan ikan asin.

Tak ada yang berbeda dengan warung nasi Ampera lainnya di kota itu, hanya saja lebih sederhana dan terpampang spanduk bertuliskan harga "Rp5.000".

Pemilik warung, Yesi Mariani (40), sambil menggunakan pelindung wajah, membawa sejumlah lauk-pauk dari dari dalam rumah untuk diletakkan ke dalam etalase gerobaknya.

Meskipun baru selesai masak, namun pembeli sudah mulai berdatangan. Yesi pun mulai melayani mereka.

Bagi pembeli yang ingin membawa pulang, Yesi mengemasnya menggunakan kotak styrofoam, tidak dengan bungkus nasi.

Ia mengaku baru berjualan Nasi Padang Rp5.000 ini beberapa bulan terakhir, saat masa pandemi COVID-19.

"Sebelumnya saya dan keluarga berjualan makanan di sekolah, tapi karena pandemi, sekolah tutup, dan kita tidak bisa berjualan lagi," kata Yesi.

Cukup lama ia tidak bekerja, dan kondisi ekonomi keluarganya mulai terganggu. Ia pun mencetuskan ide untuk membuka warung nasi Padang seharga Rp5.000.

Bagaimana bisa menjual nasi Padang semurah itu, Yesi mengaku, membeli bahan-bahan makanan lebih murah di pasar.

"Sore-sore saya belanja ke pasar, biasanya yang dijual murah-murah. Kalau ayam mahal, tidak dibeli, jadi tiap hari ganti-ganti menunya," jelas Yesi.

Selain harganya murah, lanjutnya, porsi nasi yang dijualnya pun tidak sebanyak Nasi Padang pada umumnya, pas untuk orang yang tidak suka makan banyak.

Dengan menggunakan "styrofoam", nasi yang dikemas pun tidak terlihat sedikit dibandingkan menggunakan kertas bungkus nasi.

Kendati untungnya tipis, tapi ia bisa berbagi dengan orang-orang yang kondisi ekonominya ikut terdampak masa pandemi ini.

"Untungnya tipis, capeknya banyak, tapi orang tertolong, saya juga dapat dikit untuk makan. Untung utamanya kami sudah makan di sini," kata Yesi.

Ia berharap, dengan berjualan Nasi Padang murah itu, bisa bertahan hidup hingga pandemi COVID-19 berakhir.

Seorang pembeli, Melani Friati (36) mengaku sengaja membeli Nasi Padang Rp5.000 itu karena murah dan sesuai dengan porsi makannya.

"Kalau kita beli Nasi Padang itu kan porsinya banyak, jadi ini pas untuk kita yang tidak terlalu suka makan banyak. Menunya pun menu rumahan," kata dia.

Selain harga dan porsi yang sedikit, kata Melani, rasa yang disajikan di warung Uni Yesi itu pun enak.
 
Nasi Ampera Rp5.000 di Padang (Antara/Igoy El Fitra)


Berkah Saat Pandemi

Selain Warung Nasi Padang Uni Yesi, di kota itu terdapat satu lagi warung yang menjual nasi seharga Rp5.000.

Berada di Jalan Bawal, Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, terdapat Warung Nasi Al Ananda yang tiap hari selalu ramai didatangi pembeli.

Warung nasi itu lebih besar, kapasitas tempat duduk untuk makan di sana sekitar belasan orang, dengan gaya lesehan dan duduk biasa.

Selain harganya yang murah, warung nasi Al Ananda juga mempersilahkan pembeli memilih menunya sendiri, kecuali nasi diambilkan oleh penjual.

Menunya pun beragam dan banyak, ada sayur mi goreng, gulai paku dan tempe, ikan balado, petai dan terung balado, sayur anyang, kentang goreng balado, dan ikan goreng lado hijau.

Seorang pembeli Rosita (50), sudah datang sebelum waktu jam makan siang, karena pertama kali mencoba nasi seharga Rp5.000 .

Di atas piringnya, Rosita mendapatkan dua bongkah nasi yang masih berasap dari pramusaji, lalu dipersilahkan mengambil menunya sendiri.

"Saya datang ke sini diajak teman, karena mau tahu seperti apa nasi yang dijual Rp5.000 ini, dan rencana mau beli banyak untuk berbagi ke orang-orang," kata Rosita.

Setelah mencoba, ia mengaku nasi dan menunya enak meskipun harganya sangat murah.

Menurut Rosita, warung Nasi Al Ananda itu memang tidak menjual nasi murahan, melainkan Nasi Padang enak karena pemiliknya mau berbagi.

Pemilik Warung Al Ananda, Lena Muhammad Nasir (35) menjelaskan, awalnya ia menjual Nasi Padang dengan harga normal yakni mulai Rp12 ribu hingga Rp18 ribu per bungkus.

Lena yang merupakan pengusaha travel umrah itu, merasakan sekali dampak pandemi COVID-19 yang membuat kantor dan tokonya tutup.

"Awal pandemi, kantor perusahaan tutup, toko tutup, mau dipulangkan karyawan juga tidak mungkin, saya kasihan. Lalu, saya berpikir bagaimana menyelamatkan mereka," kata Lena.

Selanjutnya, ia mencoba kegiatan menjahit masker dan membagi-bagikannya kepada warga. Saat itulah, ia melihat pihak lain membagikan nasi gratis.

Sejak itu, ia bermimpi bisa berbagi nasi gratis yang akhirnya terwujud, yakni setiap Jumat berbagi ke masjid-masjid di Kota Padang.

Karena nasi gratis itu tidak bisa setiap hari, ia juga menurunkan harga jual Nasi Padang di warungnya hingga Rp5.000 per bungkus.

Menurutnya, sejak pandemi banyak pengangguran di kota Padang, baik itu dari perusahaan dan pegawai. Ia prihatin dengan kondisi itu, apalagi masyarakat yang kerjanya tidak tetap.

Hal itulah, menjadi salah satu alasan yang membuatnya ingin menjual nasi murah dan enak, bisa dijangkau semua kalangan.

"Jika saya mendirikan rumah makan dengan untung besar di masa perekonomian sulit seperti ini, saya rasa itu menzalimi orang lain," katanya.

Lena mengaku tidak pernah menghitung untung dan modal, selain bagaimana bisa berbagi dan bisa makan.

Justru setelah membuka warung makan Rp5.000 itu, kata Lena, ia bisa mendirikan pabrik sabun cuci piring, bisa menciptakan koperasi, tenaga kerja bertambah, dan bahkan sekarang akan membuka warung mie ayam dan bakso Rp5.000.

"Intinya, setiap apa yang ditanam itu pasti ada yang lebih yang kita dapatkan," tutupnya.

Lena pun terus menambah lauk-pauk yang mulai habis di etalase warungnya, seiring dengan pembeli yang terus berdatangan mencari Nasi Padang.
Penjual mengambilkan lauk-pauk untuk konsumen, di Warung Makan Al Ananda, Ulakkarang, Padang, Sumatera Barat, Jumat (25/9/2020). (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)


Kualitas Rasa

Maraknya rumah makan Padang yang menjual makanan dengan harga murah salah seorang pakar kuliner di Padang Dian Anugrah menilai jika ingin mendapatkan makanan dengan kualitas dan rasa yang baik tentu dibarengi dengan harga yang sebanding.

Salah satu strategi pengelola rumah makan dengan harga murah adalah dengan memperkecil volume lauk yang disediakan.

Jika pada rumah makan dengan harga standar menyediakan sepotong ayam saat dibeli dipotong empat bagian, maka di rumah makan murah daging ayamnya dipotong delapan bagian sehingga ukuran lebih kecil.

Akan tetapi biasanya para pengelola rumah makan murah terus mencari pemasok ayam dengan harga terendah agar bisa mendapatkan keuntungan.

Kemudian, para pengelola rumah makan murah biasanya menyajikan nasi dengan porsi yang lebih kecil dan sayurnya biasanya tumis kol dan sambal yang sedikit.

"Untuk menciptakan kesan ramai di penyajian ditambahkan kerupuk sehingga terlihat ramai, padahal secara ukuran sebenarnya porsinya lebih kecil," katanya.

Bahkan ada juga yang untuk menyiasati dengan menyajikan ayam goreng tepung sehingga secara kasat mata akan terlihat lebih besar potongan ayamnya.

Terkait rasa ia menilai relatif karena ada yang memang rasanya cukup enak ada pula yang standar.

Secara logika jika ingin menghasilkan rasa yang berkualitas tentu harus berasal dari bumbu yang juga beragam.

"Nah kalau bumbu beragam tentu keluar lebih banyak biaya, akhirnya ada yang pakai strategi menambah penyedap rasa," ujarnya.

Akan tetapi ia mengingatkan penjual harus cermat menghitung modal yang dikeluarkan karena jika tak hati-hati bisa-bisa tidak mendapatkan untung.

"Harus ada target penjualan minimal harian, lalu pandai mengelola perputaran uang karena bisa saja ramai di awal tetapi karena tidak ketemu untung akhirnya tutup atau pelan-pelan menaikan harga," katanya.

Semua itu pilihannya ada pada konsumen dan tentu saja kaedah umum yang tak dapat dibantah adalah ada rasa ada harga, dan rasa sebanding dengan harga yang dibayar.

Oleh Ikhwan Wahyudi/Iggoy El Fitra
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar