Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Ratusan negara peserta Pertemuan ke-11 Sesi Khusus Dewan Pemerintahan UNEP/Pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Global (GC-UNEP/GMEF), di Nusa Dua, Bali, sepakat untuk menjembatani kekurangan kepercayaan di antara pihak-pihak dengan cara "kembali ke Bali".

Demikian salah satu pokok materi penyampaian kepada pers oleh Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, di Nusa Dua, Bali, Jumat. Bersama dengan Duta Besar/Ketua Dewan National Perubahan Iklim Global, Rachmat Witoelar, Natalegawa menyatakan hal itu di ujung sidang pleno GMEF.

"Dalam sidang pertama pasca Kopenhagen ini, kami sepakat untuk saling mendengarkan semua pihak dan memberi perhatian khusus pada negara berkembang. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyelaraskan format bersama untuk menjawab tantangan perubahan iklim global ini," kata Natalegawa.

Seluruh negara dan organisasi peserta GMEF di Bali kali ini, katanya, sepakat untuk memandang penting bahwa gerakan global secara nyata tentang perubahan iklim global harus semakin dilakukan secara menyeluruh dan bersama-sama.

Dengan kata lain, gerakan nyata itu tidak bisa dilakukan secara parsial kawasan per kawasan atau program kerja per program kerja masing-masing negara atau organisasi yang berkepentingan dan bertanggung jawab tentang hal ini.

"Sentimen awal pada sidang ini adalah Kopenhagen itu begitu muram dan tidak menjanjikan. Tetapi, Bali membuktikan bahwa dua bulan setelah Kopenhagen, imaji seperti itu tidak semuram yang dianggap banyak pihak. Momentum ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan dan Indonesia bersedia memfasilitasi berbagai fora yang diperlukan untuk ke Meksiko pada akhir tahun ini," kata Natalegawa.

Istilah "kembali ke Bali" diucapkan Natalegawa berkali-kali. "Pada 2007 dunia menyaksikan Bali sebagai pijakan awal untuk menjawab tantangan perubahan iklim global secara nyata. Kini Bali juga menjadi pijakan baru kita bersama untuk melangkah bersama dalam semangat yang baru," katanya.

Cancun di Meksiko, ditetapkan sebagai kota berikut bagi Dewan Pemerintahan UNEP sebagai pertemuan puncak COP-16, untuk bertemu dengan agenda yang lebih progresif ketimbang GMEF di Bali kali ini.

Pada COP-15 di Kopenhagen, banyak negara tidak menyatakan kepuasannya terhadap hasil yang dicapai, terutama terhadap sikap Amerika Serikat melalui pemerintahan Barack Obama, yang tidak memberi jawaban tegas terhadap target penurunan emisi gas karbonnya, sementara Indonesia telah tegas menyatakan hal itu, yaitu 26 persen pada 2020 dan 41 persen pada 2050 dengan dasar produktivitas emisi pada 1999.

Sebagai penekanan terhadap ketidakpuasan atas hasil Kopenhagen itu, Sekretaris Eksekutif Forum PBB Untuk Perubahan Iklim, Yvo de Boer, asal Belanda, memilih untuk mengundurkan diri dari posisinya terhitung sejak akhir Juli mendatang. Untuk selanjutnya dia akan memulai karir baru sebagai konsultan di perusahaan manajemen kelas dunia.

Di Bali, terdapat beberapa kemajuan nyata yang dihasilkan dunia untuk menjawab tantangan perubahan iklim global. Di antaranya kesediaan India, melalui Menteri Lingkungan Hidupnya, Vijay Sharma, untuk turut dalam Program Miliaran Pohon Untuk Dunia, pencanangan kebijakan dan langkahg nyata pelaksanaan "Green Economy" bagi dunia, yang dianggap menjadi dasar utama bagi dunia untuk menurunkan emisi gas penyebab kenaikan temperatur global.

Menurut Natalegawa, dunia kali ini semakin dekat dengan kesepakatan untuk menerapkan dan membagi teknologi yang bisa menjawab tantangan perubahan iklim global, skema pendanaan REDD, kelanjutan nyata Protokol Kyoto, dan penyelarasan dalam berbagai hal terhadap perbedaan yang selama ini masih terjadi.

"Kita perlu membangun kepercayaan di antara seluruh negara, masih terdapat hal ini di antara negara berkembang dan negara maju. Kita semua tentu saja tidak ingin membesar-besarkan masalah ini, namun justru menjembatani semua hal itu, baik secara formal ataupun informal," katanya.

Transparansi dalam berbagai hal, katanya, menjadi hal penting yang bisa menjadi jawaban atas permasalahan ini. "Pada pertemuan di Bali kali ini, tidak aada satupun negara peserta yang memasalahkan tekad agenda pertemuan," katanya.(Ant/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010