COVID-19 kembali menyerang, Paris akan berada dalam siaga maksimum

COVID-19 kembali menyerang, Paris akan berada dalam siaga maksimum

Dokumentasi - Seorang perempuan memakai masker pelindung saat penularan virus corona baru sedang terjadi di China saat ia berjalan di lapangan terbuka Trocadero di depan Menara Eiffel di Paris, Prancis, Sabtu (1/2/2020). ANTARA/REUTERS/Gonzalo Fuentes/am.

Lintasannya memburuk dan ini memberi tekanan pada sistem perawatan kesehatan kami,
Paris (ANTARA) - Kawasan Paris akan ditempatkan dalam kondisi siaga maksimum mulai Senin karena virus corona kembali menyerang, kata Menteri Kesehatan Olivier Veran.

Upaya tersebut akan memaksa penutupan restoran dan bar dan memberlakukan pembatasan lebih lanjut pada kehidupan publik.

Veran mengatakan wilayah Paris yang lebih luas sekarang telah melewati ketiga kriteria pemerintah untuk berada pada tingkat kewaspadaan tertinggi. Dalam 24 jam terakhir, tingkat infeksi virus korona telah melampaui 250 kasus untuk setiap 100.000 penduduk.

"Ini menjadi lebih buruk di Paris dan sekitarnya," kata Veran dalam konferensi pers.

Dia mengatakan pemerintah dan Balai Kota Paris akan melihat lagi indikator pada hari Minggu dan bertindak jika tidak ada perbaikan.

Baca juga: Prancis konfirmasi 10.569 kasus tambahan COVID-19
Baca juga: Prancis catat harian tertinggi kasus COVID-19


Situasinya, kata dia, mengkhawatirkan di lima kota lain: Lille, Lyon, Grenoble, Saint-Etienne, dan Toulouse.

"Lintasannya memburuk dan ini memberi tekanan pada sistem perawatan kesehatan kami," lanjut Veran, meskipun secara nasional tidak ada risiko jangka pendek rumah sakit kewalahan oleh masuknya pasien virus corona.

Otoritas Prancis melaporkan kenaikan setiap hari dalam kasus baru COVID-19 yaitu melebihi 13.000 lagi pada hari Kamis.

Virus itu telah membunuh lebih dari 32.000 orang dan menginfeksi lebih dari setengah juta orang di Prancis.

Agar kota ditempatkan dalam kewaspadaan maksimum, tingkat insiden harus melebihi 100 infeksi per 100.000 di antara penduduk lansia dan 250 per 100.000 di antara masyarakat umum, sementara setidaknya 30 persen tempat tidur perawatan intensif disediakan untuk pasien virus corona.

Dalam skenario ini, pemerintah bulan lalu mengatakan bar dan restoran akan ditutup, pusat kebugaran dan ruang olahraga ditutup, dan perayaan pribadi seperti pernikahan dan pesta dibatasi hanya untuk 30 orang jika diadakan di ruang publik.

Restoran dan bar ditutup selama dua minggu dari Senin lalu di Marseille yang menghadapi gelombang kedua virus corona, memicu protes dan gugatan hukum, yang gagal.

Pemilik restoran merencanakan protes pada hari Jumat di Paris dalam upaya untuk mengubah pendekatan pemerintah.

Veran mengatakan ada tanda-tanda mereda krisis di Bordeaux, Nice dan Marseille, di mana putaran pembatasan sebelumnya diberlakukan sebelum Paris.

Prancis sekarang melakukan lebih dari 1 juta tes COVID setiap minggu. Kebijakan pengujian gratis, bagaimanapun, telah menempatkan sistem di bawah tekanan besar, dengan antrian yang mengular dan penundaan hasil laboratorium yang lama.

Ini sekarang membaik, kata Veran, dengan laboratorium sekarang mengeluarkan hasil 75 persen dalam waktu 48 jam.

Sumber: Reuters

Baca juga: Kasus baru COVID-19 Prancis kembali di atas 10.000
Baca juga: GlaxoSmithKline optimistis vaksin COVID-19 tersedia tahun depan

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menonton bioskop terapung di atas Sungai Seine

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar