Pamekasan (ANTARA News) - Warga Bujur Barat, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, Jawa Timur, menangkap seekor ular cobra berukuran panjang sekitar empat meter yang diketahui memakan mayat.

Ular berukuran besar dengan diameter 40 cm meter ini berhasil ditangkap warga di pemakaman umum desa setempat, saat ular tersebut sedang keluar dari lubang sebuah kuburan yang ambruk.

"Ular ini sebenarnya jinak, namun ketika melihat orang yang berpakaian putih langsung membuka mulutnya seperti hendak memangsa orang itu," kata Kepala Desa Bujur Barat, Rajaie kepada ANTARA, Jumat.

Ia menyatakan, ular cobra berukuran besar itu diyakini sebagai pemangsa mayat, karena di pemakaman umum Desa Bujur Barat banyak makam yang ambruk dan tidak diketahui mayatnya.

Salah satu indikasi bahwa yang memangsa mayat yang hilang di dalam kuburan adalah ular tersebut adalah karena setiap melihat orang berpakaian putrih ular cobra berubah agresif dan langsung membuka mulutnya.

"Mayat di kuburan itu, kan dibungkus kain putih. Makanya begitu melihat orang berpakaian putih langsung membuka mulut, mungkin dikira mayat juga," ucapnya.

Berbeda dengan ular cobra pada umumnya, ular cobra yang ditangkap warga Desa Bujur Barat itu semuanya berwarna hitam.

Sebagian warga memahami secara mitos keberadaan ular pemangsa mayat tersebut. Pasalnya, sejak ular sepanjang empat meter dengan diameter 40 cm itu menampakkan diri, di Desa Bujur Barat tidak pernah turun hujan.

"Semula saya ingin menyerahkan ular itu ke Dinas Peternakan supaya `dimuseumkan` di kebun binatang, namun warga melarang dengan alasan bermimpi bahwa selama ular tersebut tidak dilepas Desa Bujur Barat tidak akan turun hujan," terang Rajaie.

Selama ular pemangka mayat itu ditangkap warga, menurut Rajaie di desanya memang tidak pernah turun hujan, meski di desa tetangganya, seperti Desa Bujur Tengah dan Desa Bujur Timur hampir tiap hari turun hujan.

"Begitu ular itu dilepas pada pagi harinya dua hari lalu, siang hari di desa kami langsung turun hujan," tutur Rajaie sambil mengelengkan kepala.

Ketua Panitia Pemilikan Kecamatan (PPK) Batumarmar 1999-2004 ini lebih lanjut menjelaskan, sebagian warga yang familinya dikubur di pemakaman umum Desa Bujur Barat tempat ular itu ditangkap dan kemudian dilepas kembali masih mengaku resah, takut dimangsa ular raksasa tersebut.

"Sampai saat ini kami masih bingung tentang keberadaan ular itu. Disatu sisi harus menuruti keinginan warga yang memahami secara mitos, namun disisi lain juga harus memperhatikan jenazah orangtua warga yang dimakamkan di pemakaman itu," tuturnya.

Desa Bujur Barat berada di bagian utara Kabupaten Pamekasan, berjarak sekitar 50 kilometer dari kota berpenduduk sekitar 800 ribu lebih tersebut.

Lokasi desa ini masuk kategori desa terpencil dan bersebelahan dengan desa Bujur Tengah, tempat peristiwa carok massal pada tahun 2002 lalu.

(T.KR-ZIZ/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010